oleh

Aktualisasi Pendidikan Aceh Menuju Era Revolusi Industri 4.0

Banda Aceh-Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Daerah (HARDIKDA) Ke-59, Pemerintah Aceh yang secara teknis dilaksanakan Dinas Pendidikan Aceh, menggelar serangkaian kegiatan, seperti seminar nasional dan Lomba Aceh Marching Band Championship (AMBC) piala Gubernur Aceh dan piala tetap Kepala Dinas Pendidikan Aceh tahun 2018.

Seminar nasional berlangsung di auditorium Prof. H. Ali Hasjmy, Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (15/09/2018) dan menghadirkan empat para ahli yang memiliki kompetensi dan relevansi kuat sebagai narasumber Utama.

Mereka yaitu Dirjen Dikdasmen Kemdikbud RI, Hamid Muhammad, M.Sc, Ph.D, Kapus Tekkom Kemdikbud. RI, Gogot Suharwoto, Ph.D.

Keduanya membahas tetang kebijakan dan strategi nasional dalam pengembangan pendidikan.Serta Rektor Unsyiah, Prof. Dr. H. Syamsul Rizal, M.Eng dan Rektor UIN-Arraniry, Prof. Dr. H. Warul Walidin AK, MA.

Kegiatan tersebut juga dihadiri 300 peserta dari unsur politisi, birokrasi Pendidikan, akademisi, LSM-Bidang Pendidikan, Kepala Sekolah, Pengawas, Guru, perwakilan mahasiswa, dan perwakilan jurnalis.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin, S.Pd, M.Pd, mengatakan, semua pihak mengenang kembali akan sebuah peristiwa besar 59 tahun yang lalu.Ketika tokoh-tokoh Aceh bersatu dalam sebuah tekad yang ditandai dengan Pembangunan Kota Pelajar Mahasiswa (KOPELMA) Darussalam.

“Kemudian menjadi kampus Universitas Syiah Kuala dan IAIN Jamiaj Ar-Raniry saat ini berubah menjadi UIN- Ar-Raniry, sebagai Jantung Hatinya Rakyat Aceh serta sebuah Perguruan Tinggi Tgk. Chik Pante Kulu,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin, S.Pd, M.Pd, saat membuka seminar nasional tersebut.

Ia juga mengatakan, meski para tokoh tersebut telah tiada, namun semangat tidak boleh padam. Semua pihak harus terus berjuang untuk mengobarkan semangatnya melalui upaya kongkrit untuk mempersiapkan setiap generasi yang selalu selaras dengan zamannya.

“Kita semua menyaksikan sebuah fenomena perubahan dunia yang terus bergerak dalam sebuah bingkai perubahan. Perkembangan globalisasi saat memperlihatkan semakin tipisnya batas antar negara bangsa, sehingga kondisi di suatu negara akan memberi dampak terhadap negara lain,” katanya.

Kondisi ini menurutnya menjadi penyebab pola tatanan individu hampir tidak berdaya, sehingga menuntut adanya kemampuan kolaborasi agar dapat memperkuat pola kerjasama yang saling berhungan antara berbagai kepentingan.

“Dalam konteks perubahan era, secara normatif era agraris telah berkembang berubah menjadi era industri. Sementara itu, dalam rentang era industrialisasi juga terus bergerak maju, sepertinya tanpa ada kekuatan yang mampu membendung perubahan tersebut,” imbuhnya.

Masih kata Kepala Dinas Pendidikan Aceh, saat ini telah sampai pada tahap ke empat yang dikenal dengan sebutan era revolusi industri 4.0.Dalam era ini, terdapat ciri khusus seperti perkembangan yang sangat pesat dibidang teknologi informasi, otomasi sistem, ekonomi digital, dan lainnya.

“Pada tataran implementatif produk seperti supercomputer, robot, artificial intelligence, dan modifikasi genetik mengakibatkan pergeseran karakteristik tenaga kerja, yang tidak lagi bergantung pada tenaga manusia, tapi pada orientasi mekanisasi,” tuturnya.

Hal ini, sambung Kadisdik Aceh, memberikan dampak pada pergeseran sektor manufaktur ke sektor jasa, dimana kondisi tersebut membutuhkan tenaga kerja jenis middle-higher skilled dan secara perlahan tidak dapat lagi menyediakan kesempatan kepada low-skilled labour.

“Gambaran perubahan tersebut akan merubah standar dan tata kelola kehidupan, sehingga perlu diikuti dengan penyesuaian perilaku masyarakat agar selaras dengan perkembangan.Perubahan tidak pernah dapat dihentikan, namun, masyarakat yang harus dipersiapkan agar memiliki kesiapan dalam menyikapi perubahan,” lanjutnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Aceh sebagai bahagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) perlu mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, kreatif, adaptif, inovatif dan memiliki karakter keagamaan serta kebangsaan yang kuat agar mampu hidup dan meneruskan nilai-nilai luhur dalam kehidupan.

“Aceh memerlukan SDM yang memiliki think design dan tingkat aversity quotient (AQ) yang tinggi sehingga menjadi generasi solutif dan inovatif dalam menghadapi tantangan di-era disruption yang terus bergerak dalam bingkai perubahan.Dengan demikian, model dan kualitas layanan bidang pendidikan menjadi pilihan strategis dalam menyikapi kebutuhan tersebut perlu diaktualkan sehingga diperoleh sebuah format yang selaras dengan kebutuhan zaman,” papar Kadisdik Aceh ini.

Dalam kerangka responsif terhadap kondisi tersebut, sambungnya lagi, Aceh memerlukan pemikiran untuk merekontruksi sistem pendidikan dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki untuk menyiapkan pendidikan yang lebih relevan dengan tantangan zaman.

“Dalam kerangka itulah seminar nasional ini di gagas dengan sebuah harapan untuk melahirkan pemikiran-pemikiran untuk mengembangkan pendidikan di Aceh yang lebih efektif dimasa mendatang.Saya yakin dengan potensi-potensi yang kita miliki dan kerjasama dari semua elemen dan stakeholders pendidikan, kebangkitan pendidikan Aceh akan segera terwujud.Marilah kita bergandengan tangan untuk mewujudkan ‘Aceh Carong’ dengan pemanfaatan TIK sebagai ‘Aktualisasi Pendidikan Aceh Menuju Era Revolusi Industri 4.0’,” sambung kadisdik Syaridin.

Ia menegaskan, Pemerintah Aceh dibawah kepemimpinan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah telah menetapkan kebijakan strategis dan arah pembangunan Aceh dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2017-2022 yang disebut dengan Program Aceh Hebat.

“Paket kebijakan tersebut dijabarkan ke dalam 15 program prioritas. Tanggung jawab pelaksanaannya berada pada seluruh Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA). Bersama SKPA lainnya, Dinas Pendidikan Aceh merupakan salah satu lembaga yang bertugas melaksanakan visi-misi gubernur mewujudkan target pembangunan, khususnya sektor pendidikan melalui kebijakan Aceh Carong (Aceh Pintar),” tegasnya.

Ia menambahkan, seminar tersebut diarhkan untuk menggali relevansi nilai-nilai budaya masyarakat Aceh sebagai potensi kearifan lokal dalam proses pendidikan menuju Era Revolusi Industri 4.0

“Juga untuk memperoleh gambaran kebutuhan aktualisasi model pendidikan di Aceh yang dapat menghasilkan kompetensi SDM yang relevan dengan kebutuhan serta memperoleh gambaran terhadap kebijakan dan strategi pengembangan pendidikan nasional sebagai referensi dalam upaya pengembangan pendidikan di Aceh,” tambahnya.[]

(Editor | Redaksi)

Komentar

News Feed