full screen background image

Berlebaran di Benua Raja, Istana Islam Melayu Terbesar di Aceh Tamiang

Share Button
istana-benua-raja

Tampak samping Istana Benua Raja, di Aceh Tamiang, Aceh. FOTO | KOMPAS.COM 

Lhokseumawe-Matahari merangkak naik di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Senin (26/6/2017). Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Lokasi istana itu di sisi kanan jalan lintas jalan Kuala Simpang – Rantau, Aceh Tamiang.

Memasuki kompleks kerajaan Islam Melayu terbesar di Aceh Tamiang itu suasana tampak hening. Sebuah mobil sedan warna hijau terparkir di depan istana. Kompleks ini terdiri dari dua bangunan, yaitu bangunan utama istana dan pendopo kerajaan.

Bangunan utama ini bergaya Belanda, dibangun dari beton dengan atap genting, khas tempo dulu. Persis di samping istana terdapat satu bangunan semi permanen.

Di situlah pendopo. Di sana sang raja kerap memimpin pertemuan kenegaraan.

“Misalnya bertemu panglima perang dan petinggi kerajaan, para datuk dan raja-raja kecil lainnya juga ketemu di pendopo dengan raja,” kata Tengku Muhammad David yang akrab disapa Iboy, cucu keturunan Raja Sulong, raja terakhir Kerajaan Benua Raja.

Iboy, putra dari Tengku Mustafa Kamal akrab disapa Tengku Ipang. Sedangkan Tengku Ipang merupakan putra keenam Raja Sulong, pewaris tahta terakhir kerajaan itu. Sedangkan Raja Sulong, menurut Iboy, adalah raja ke-13 kerajaan itu yang berkuasa sejak 1933-1945.

Dalam literatur lain disebutkan Raja Sulong merupakan raja ke-17 pada silsilah kerajaan itu. Sedangkan bangunan utama kerajaan terdiri dari enam kamar.

Di sini, tempo dulu, sambung Iboy, letak singgasana dan lain sebagainya. Di sinilah tamu kerajaan ditemui. “Istana sekarang ditempati oleh sepupu saya. Orangnya sedang pergi,” katanya.

pendopo

Pendopo di sisi kiri Istana Benua Raja, Aceh Tamiang, Aceh. FOTO | KOMPAS.COM 

Begitu juga dengan pendopo ditempati oleh keluarga lainnya. Cucu raja ini membangun rumah persis di sisi kanan bangunan kerajaan. Bagian belakang istana terdapat dapur dan sejumlah kamar kecil. “Itu bangunan untuk pembantu kerajaan,” terangnya.

Pada sisi kanan kerajaan terdapat kompleks kandang kuda raja. Sedangkan di sudut belakang terdapat kolam kecil yang konon, menurut Iboy, lokasi pemeliharaan buaya putih kesayangan raja.

Peninggalan Istana

Menurut Iboy dokumen kerajaan tersebar di sejumlah keluarga kerajaan. Sedangkan baju kebesaran raja, stempel kerajaan dikenal dengan sebutan cap sikureung, pisau tumbok lada (senjata kebanggaan kerajaan) dan tongkat raja dipegang oleh Iboy.

“Saya yang simpan kalau capnya (stempel) kerajaan. Sebelum ayah saya meninggal 2007 lalu, itu diberikan ke saya. Sekarang saya yang simpan,” katanya.

Dia menjelaskan sejauh ini tidak ada perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk destinasi wisata sejarah itu. Bagian depan tertulis papan nama yang dibangun oleh Dinas Pariwisata Provinsi Aceh tahun 2007.

“Sejauh ini belum ada perhatian dari pemerintah. Lihat itu genteng istana, bocor dan kami tempel sendiri,” katanya.

Lokasi makam Raja Sulong berada di Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, sekitar lima kilometer dari kompleks istana. “Itu makam juga berada di tanah keluarga. Juga dikelola oleh keluarga, belum ada perhatinnya pemerintah kita ini,” ujarnya sambil tersenyum.

Sekali waktu, sambung Iboy, sejumlah guru dan murid sekolah dasar berkunjung ke istana itu. Sedangkan kunjungan lainnya relatif sepi.

bagian-depan-istana

Bagian depan Istana Benua Raja di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Senin (26/6/2017). FOTO | KOMPAS.COM 

“Kami masih mengelola sendiri semampu kami peninggalan sejarah ini. Padahal ini kerajaan terbesar di Aceh Tamiang. Kita punya referensi surat-surat raja tempo dulu, dan itu menunjukkan memang di sinilah kerajaan Islam terbesar di Aceh Tamiang,” terangnya.

Mata hari kian terik, sesekali semilir angin mengembus rerumputan setinggi lutut orang dewasa di bagian halaman kerajaan. Dua tiang gawang sepak bola tergeletak di halaman istana.

Di sana, istana teronggok diam. Menunggu perhatian kita, agar sejarah tak lagi menjadi barang langka dan hanya layak dibicarakan di seminar-seminar akademis. Bahwa istana itu juga menarik dijadikan kunjungan wisata, apalagi saat Idul Fitri seperti sekarang ini.

Sumber | KOMPAS.COM 

Facebook Comments



Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.