full screen background image

Buku Yusny Saby Sang Motivator Bukan Akhir dari Kehidupan

Share Button
buku Yusny Saby

Launching dan bedah buku Yusny Saby sang motivator di ruang VIP AAC Dayan Dawood. Selasa, 30 Agustu 2016 dipadati pengunjung. FOTO | HIDAYAT PULO

Banda Aceh-Prof. Yusny Saby merasa bangga dan bahagia dengan buku yang diterbitkan LSAMA yang mengangkat tentang kisah hidupnya sebagai sang motivator. Dia menganggap itu menjadi kebanggaan bagi dirinya. “Saya merasa terharu dengan apa yang dilakukan LSAMA, karena telah menerbitkan buku khusus tentang saya, ini sangat mengharukan,” ujar Yusny Saby.

Mantan rektor UIN Ar Raniry itu mengatakan, terbitnya biografi atau buku tentang sebagian kisah hidupnya itu bukanlah berarti akhir dari kehidupannya. “Ini jangan karena sudah terbit buku tentang kisah hidup saya, nanti jangan anggap saya sudah mati. Makanya saya juga sempat berfikir, ini apalagi, apakah terbitnya buku ini akan dianggap sebagai akhir dari hidup saya,” kata Yusny Saby bergurau.

Acara launching dan bedah buku Yusny Saby Sang Motivator yang menelesuri tentang karakter pemimpin jujur dan ikhlas dalam membangun umat tersebut dipadati pengunjung. Terlihat tidak kurang dari 250 peserta hadir memadati ruangan VIP gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Acara yang berlangsung dari pukul 9.00-12.00 WIB itu berlangsung dengan meriah.

Adapun narasumber pada acara tersebut yaitu, Izziyah Ibrahim Husein, Ph.D merupakan akademisi Unsyiah, Wakil Rektor Unsyiah, Dr. Hizir Sofyan, Fauruz M. Nur, MA dari UIN Ar-Raniry, Reza Idria, MA (Kandidat Doktor Harvard University), Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D (Antropolog).

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi, yang sering tampil sebagai pembaca syair di Aceh TV, Fuadi Zulkifli juga turut hadir dan mengisi acara tersebut dengan sebuah syair sebagai ungkapan rasa syukur dan apresiasi kepada Yusny Saby sekaligus menghibur para peserta.

Buku setebal 449 halaman tersebut menceritakan tentang sosok Yusny Saby yang dianggap penting untuk dikeluarkan sebagai bentuk kepedulian terhadap tokoh yang sudah berkiprah baik di level nasional bahkan internasional. Namun buku tersebut tidak menceritakan tentang bagaimana perjalanan hidupnya menempuh pendidikan di Temple University saat menjadi imam masjid dan berdakwah untuk komunitas warga Amerika kulit hitam.

“Sebenarnya itu adalah kesilapan saya, padahal buku ini akan menjadi lebih menarik jika kita mengungkapkan juga bagaimana kisah hidupnya di dalam kawasan komunitas warga kulit hitam yang sangat ekstrim di AS,” ujar Suraiya. IT yang juga salah seorang mahasiswi Temple University di Philadelphia Amerika Serikat.

Reporter | Hidayat Pulo

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM