full screen background image

Ini Empat Alternatif Angkutan Peti Kemas Jakarta Menuju Aceh

Share Button
Penyambutan Peti Kemas Perdana

Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah bersama Istri, Hj. Niazah A Hamid menghadiri dan meresmikan Harbour Mobile Crane (HMC) pada Penyambutan Kapal Peti Kemas Perdana di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar, Jumat 5 Augustus 2016. FOTO | Ist

Krueng Raya-Komisaris PT Tempuran Emas Tbk, Alfred Natsir, mengungkapkan, ada empat alternatif angkutan peti kemas dari Jakarta menuju Aceh. Pertama, angkutan darat dengan truck, dari Jakarta-Banda Aceh via Merak-Bakauheni, memakan waktu 4-5 hari, biaya angkut Rp 17,5 juta. Kedua, pelayaran dari Jakarta-Belawan, selanjutnya dari Belawan menuju Aceh via jalur darat dengan truck, membutuhkan waktu 4-5 hari dan biaya angkut Rp13,5 juta.

Hal itu disampaikan Alfred Natsir, pada peresmian pengoperasian Harbour Mobile Crane atau HMC dan penyambutan kapal petikemas perdana, yang dipusatkan di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Jum’at, 5 Agustus 2016.

“Angkutan laut akan memangkas biaya operasional, hal ini akan meningkatkan efisiensi dan daya saing ekonomi,” ujar Komisaris PT Tempuran Emas Tbk, Alfred Natsir.

Alternatif ketiga, sebut dia, pelayaran dari Jakarta langsung ke Malahayati, hanya membutuhkan biaya angkut sebesar Rp7,5 juta dan memakan waktu sekitar 4 hari. Terakhir, pelayaran dari Jakarta ke Belawan, selanjutnya, di Belawan ganti kapal menuju Malahayati juga membutuhkan biaya angkut sebesar Rp7,5 juta dengan waktuh tempuh selama 4-5 hari.

“Ini berarti dengan pelayaran angkutan petikemas ke Malahayati dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing ekonomi masyarakat. Selain itu, efisiensi sistem angkutan laut diharapkan akan mengundang investor baru ke Aceh,” kata Alfred.

Selain efisiensi, sambung Alfred, pelayaran angkutan petikemas juga menghasilkan pengheatan penggunaan bahan bakar minyak. Alfred memberikan perbandingan, angkutan langsung petikemas 500 box/teus dengan 500 truk via Merak-Bakauheni dari Jakarta banda Aceh membutuhkan BBM sebanyak 360 ton.

“Sedangkan angkutan petikemas dengan jumlah 500 box/teus dengan satu kapal, dari Jakarta ke Malahayati hanya membutuhkan 60 ton BBM. Dalam satu trayek kita akan menghemat konsumsi BBM sebesar 300 ton, bisa dihitung berapa besar penghematan BBM yang bisa kita tekan dalam setahun. Ini merupakan penghematan nasional,” sambungnya.

Alfred juga mengungkapkan, bahwa Aceh memiliki potensi besar untuk mengembangkan pelabuhan bertaraf internasional, karena Aceh berada di Selat malaka, yang merupakan jalur tersibuk di dunia.

“Setiap tahunnya, petikemas yang singgah di pelabuhan-pelabuhan yang tersebar di Selat malaka mencapai 65 juta box/teus, dengan perincian, 35 juta di Pelabuhan Singapura, 16 juta di Port Klang, 11,5 juta di Tanjug Pelepas, 1 juta di Penang Port, 1 juta di Belawan dan 0’5 juta di Batam,” lanjut Alfred.

Sejalan dengan permintaan Gubernur Aceh, Alfred juga mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk tidak lagi menjadi penonton dalam dunia pelayaran petikemas dengan memanfaatkan dan megembangkan potensi ekonomi Aceh untuk dipasarkan ke luar Aceh melalui Malahayati.

Sebagaimana diketahui, peresmian pengoperasian Harbour Mobile Crane atau HMC dan penyambutan kapal peti kemas perdana diakhiri dengan penekanan sirine yang dilakukan oleh Gubernur Aceh, disampingi oleh Direktur Utama PT Pelindo I,Bambang Eka Cahyana, dan Alfred Natsir. Acara kemudian dilanjutkan dengan peusijuek yang dilakukan oleh Gubernur kepada Kapten Kapal dan Operator HMC Malahayati.

Reporter | Hidayat

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM