full screen background image

Era Pemimpin “Aneh”

Share Button
leadership

ilustrasi-Leadership. FOTO | MIKE-DIXON.COM 

Saat ini, Dunia Internasional tengah dikejutkan oleh hasil Pilpres AS. Betapa tidak, hasil pemilu menunjukkan bahwa Donald Trump, calon dari partai republik, memenangkan Pemilu AS dan berhak melangkah ke gedung putih. Padahal banyak pihak yang menduga dan mengunggulkan Hillary Clin­ton, calon dari partai demokrat, yang akan menjadi presiden AS ke-45.

Jika melihat geliat masing-masing pasangan ketika atau bahkan jauh sebelum masa kampanye berlangsung, sebagai­an besar orang akan menya­dari dan berasumsi mana sosok yang memang pantas menyabet gelar sebagai orang nomor satu di AS, mulai dari kepribadian hingga ide-ide serta program kerja yang masing-masing calon canangkan. Aneh memang, tetapi ini riil.

Donald Trump mengalahkan pesaingnya dengan meraih 290 electoral vote. Sedangkan Hillary Clinton hanya mendapat suara 218 electoral vote. Trump pula meraih kemenangan di beberapa daerah yang biasanya dimenangkan oleh pihak partai Demokrat, yaitu daerah Wisconsin dan Pennsylvania. Tentu ini menjadi catatan gemilang bagi partai republik.

Sejak muncul di panggung perpolitikan AS, Donald Trump sudah terkenal menjadi sosok yang kontroversional dengan ber­bagai ide “gila” dan irasional yang ia cetuskan. Bahkan setelah ada keputusan dari hasil pemilu kemarin, dengan Donal­d Trump sebagai pemenangnya, hasil ini pun menjadi suatu yang kontroversi bagi semua pihak. Ya, Aneh.

Keanehannya bukan saja terletak pada sosoknya yang memang sudah melekat pada diri Donald Trump, akan tetapi dari selera pemimpin pun nampaknya sudah jauh bergeser. Ten­tu ini masih pandangan subjektif. Barangkali Nilai atau kriteria yang menurut orang Indonesia baik, belum tentu sama bagi rakyat AS.

barangkali bagi rakyat AS sosok Donald Trum­p menjadi figur yang cocok untuk memimpin mereka. Toh, AS menganut sistem demokrasi. Jadi, siapapun berhak memi­lih atau dipilih sesuai dengan nurani­nya.

Dengan terpilihnya Trump sebagai Presi­den AS, secara otoma­tis ide serta proker yang ia canangkan pasti akan direalisasi­kan. Inilah yang menjadi salah satu bagian keanehan­nya. Misalnya saat kampanye, Trump mengeluarkan ide-ide “aneh”nya yaitu akan membuat tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko dengan tujuan untuk membendung imigran masuk ke wilayah AS.

Tidak cukup itu, Trump pun berencana melarang orang-orang Islam memasuki wilayah AS dan akan melancar­kan perang dagang dengan tiongkok. Dengan steatment itu, tentu banyak pihak yang tidak sepakat, bahkan dari internal rakyat AS sekalipun.

Bagi masyarakat dunia, dengan terpilihnya Trump maka akan menimbulkan kekhawatiran multidimensional. Tentu kekhawa­tiran penduduk dunia bukan tanpa alasan. Akan ada banyak sektor yang mengalami imbasnya, seperti ekonomi, ketahanan dunia hingga kerukunan dan kesejahteraan masyara­kat dunia, meskipun skali lagi itu hanya baru sebatas prediksi.

Namun, yang pasti sedikit banyak, wajah dunia akan ba­nyak mengalami perubahan atas terpilihnya Trump sebagai Presiden AS. karena tidak bisa dinafikan, AS merupakan negara Adi Kuasa yang memiliki pengaruh penting bagi jalannya roda kehidupan negara-negara di dunia.

Pemimpin “Aneh”

Berbicara tentang pemimpin “aneh”, Indonesia pun me­miliki­­nya. Sebut saja Presi­den Jokowi. Presiden Jokowi muncul de­ngan sosok yang berbeda (aneh) dari keghaliban pemimpin pada umumnya. Yaitu sikap blusukannya. Blusukan bagi rak­yat Indonesia merupakan sesuatu hal baru yang sudah lama hilang dari sikap pemimpin Indonesia.

Biasanya pemimpin, apalagi sekelas Presi­den, sangat jarang untuk melakukan perbuatan itu. Pun, ketika melakukannya, akan ba­nyak kopasus dengan senjata lengkap yang berada di sekeliling presiden untuk siap siaga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Padahal, dengan keamanan seperti itu, akan mengurangi kekhidma­tan komunikasi antara pemimpin dan yang dipimpin­nya. Sekali lagi, bagi rakyat, bertemu dengan pemimpin negara­nya merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

Berbeda dengan Presiden Jokowi, beliau keluar dari keumu­man, dengan lebih banyak meluangkan waktu untuk terjun di lapangan dan bertemu dengan mereka yang dipimpinnya. Beliau melakukan itu sejak menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI, Bahkan hingga setelah menjadi Presiden RI pun tetap melakukannya.

Inilah yang menjadi “keane­han” beliau yang kemudian menjadi masterpiece kepemimpinannya. Sehingga, menjadi salah satu alasan sebagian rakyat Indonesia memper­cayai dan memberikan amanah urusan negara kepada beliau.

Ini memang era “Aneh”. Semua yang tidak mungkin, hari ini sangat mungkin sekali terjadi. Bidang apapun itu, termasuk pe­mimpin. Namun yang terpenting, era sekarang ini meng­isyarat­kan kepada kita bahwa dominasi “Otak Kiri” mulai tergeser­kan oleh “Otak Kanan”, zaman konseptual. Abad 19 lalu, orang-orang begitu mengagungkan orang-orang pintar (IQ tinggi). Namun, orang-orang kreatiflah yang sekarang menguasai.

Pemimpin-sekalipun ia pintar setinggi langit, apabila tidak kreatif melihat peluang zaman dan perkembangan rakyatnya serta tuntutan dunia, akan disalip oleh orang-orang “aneh” (yang mau keluar dari kegahliban dan kreatif serta inovatif dalam memimpin). Ada pepatah mengatakan, “Ketika kamu tidak bisa menjadi yang pertama, maka jadilah yang terbaik. Dan jika tidak bisa menjadi yang pertama dan yang terbaik, maka jadilah yang berbeda /”Aneh”. Wallahu ‘alam bi al’showab. ***

Oleh: Irfan Jamallullail.
Peneliti di lembaga International Reserch and Islamic Studies UIN Walisongo Semarang

SUMBER | ANALISADAILY.COM

Facebook Comments



Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.