oleh

Fungsi Ganda Menara Masjid

lanskap-islamic-center
Lanskap Islamic Center NTB dengan menara 99 Asma’ul Husna atau minaret masjid setinggi 99 meter berdiri megah di kota Mataram, NTB, Senin (13/6). FOTO | ANT/REPUBLIKA.CO.ID 

Jakarta-Menara kini sudah lazim ada dalam sebuah bangunan masjid. Menara di masjid biasanya tinggi, berada di bagian pojok dari kompleks masjid. Fungsinya tidak sebatas sebagai tempat meletakkan pengeras suara dan memperdengarkan suara azan, tapi di banyak tempat menara masjid juga berfungsi sebagai menara pandang.

Menara berfungsi ganda semacam ini biasanya terdapat pada masjid-masjid yang dibangun di kota-kota pelabuhan atau tepi sungai.

Masjid Ribbat Shushah di Tunisia adalah salah satu masjid yang menaranya berfungsi ganda. Selain meletakkan pengeras suara untuk memperjauh jangkauan suara azan, masjid ini juga menjadi semacam mercusuar atau sebagai menara pandang.

Tak hanya di Tunisia, di Indonesia pun ada masjid semacam itu. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Kota Semarang, contohnya. Menara masjid yang tingginya mencapai 99 meter ini–sesuai dengan 99 asmaul husna–memiliki teropong yang dilengkapi teropong bintang. Dari sini, dapat terlihat hamparan ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu dengan latar Laut Jawa yang berwarna kebiruan.

Di zaman Nabi Muhammad SAW, arsitektur masjid-masjid memang belum dilengkapi dengan menara. Tapi, dalam perkembangan selanjutnya, menara telah menjadi bagian dari arsitektur sebuah bangunan masjid. Bentuknya pun bervariasi. Ada menara yang menyatu dengan bangunan masjid utama dan ada pula yang terpisah dengan bangunan masjid.

Dalam sejarahnya, menurut wikipedia, menara pertama kali dibangun di Basra pada tahun 665 sewaktu pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, Muawiyah I, berkuasa. Muawiyah mendukung pembangunan menara masjid sebagai tempat muazin mengumandangkan azan di samping untuk menyaingi menara-menara lonceng gereja.

Adalah Khalifah Al-Walid dari Bani Umayyah yang pertama kali memasukkan unsur menara dalam arsitektur masjid ketika memugar bekas Basilika Santo John (Yahya) menjadi Masjid Agung Damaskus. Semula, di bekas basilika itu, terdapat dua buah menara yang berfungsi sebagai penunjuk waktu, yakni sebagai lonceng pada siang hari dan kerlipan lampu pada malam hari. Saat dipugar, kedua menara itu tetap dipertahankan, tapi kemudian dibangun sebuah menara lagi di sisi utara pelataran masjid.

Tak lama berselang, dilakukan pemugaran Masjid Nabawi di Madinah. Saat itu, masjid ini belum memiliki menara. Al-Walid lalu memerintahkan para arsiteknya untuk membangun menara sebagai tempat muazin mengumandangkan azan. Mungkin, karena itulah, bentuk menara pada Masjid Nabawi dan menara utara Masjid Damaskus sangat mirip, terutama pada ornamen kubah puncak menara yang ramping.

Menara masjid ini dibuat dengan gaya yang teramat kokoh, berbeda dengan menara masjid yang biasanya berbentuk ramping. Sebagai kota pelabuhan, Ribbat Shushah memanfaatkan menara masjid sebagai sarana untuk melakukan pengamatan lepas pantai dari balkon menara.

SUMBER | REPUBLIKA.CO.ID 

Facebook Comments

Komentar

News Feed