oleh

Generasi Carong Menuju Era Revolusi Industri 4.0

Banda Aceh-Seperti tahun sebelumnya setiap 2 September, Pemerintah Aceh memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda).Agenda tahunan ini diperingati dengan prosesi upacara yang dipusatkan di lapangan Tugu Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Minggu (02/09/2018).

Bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) Hardikda ke-59 tahun 2018, Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT serta dihadiri pimpinan DPRA, Kodam Iskandar Muda, Polda Aceh, Kejati Aceh, Rektor Unsyiah dan Rektor UIN Ar-Raniry, Ketua MPU, MPD dan MAA, Wali Kota Banda Aceh, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Kepala Dinas Pendidikan Dayah, serta pimpinan SKPA terkait, pimpinan Instansi vertikal, pimpinan lembaga pendidikan, para tenaga pengajar, seluruh insan pendidikan di Aceh, pelajar, santri, serta generasi muda Aceh.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT, menyampaikan sejumlah pesan terkait Hari Pendidikan Daerah (HARDIKDA) ke-59 Tahun 2018 ini.Sebagaimana diketahui, peringatan Hardikda bukan semata-mata bentuk dari manifestasi keistimewaan Aceh di bidang pendidikan.

Begitu pentingnya pembangunan sektor pendidikan bagi pembangunan Aceh di masa kini dan masa depan, sehingga Pemerintah Aceh menempatkan bidang pendidikan sebagai salah satu program prioritas di dalam RPJM 2017-2022.

Program prioritas tersebut dinamai “Aceh Carong” atau Aceh Cerdas, dengan sasaran utamanya, antara lain, penguatan pendidikan vokasional di berbagai bidang, penyediaan fasilitas pendidikan yang lengkap, pemerataan rasio guru di seluruh daerah, peningkatan kompetensi guru, penyediaan beasiswa bagi anak yatim dan anak miskin, serta beasiswa bagi putra-putri Aceh yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Untuk mendukung program tersebut, Pemerintah Aceh tidak hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sekitar 20 persen dari APBA, tapi juga diperkuat pula dengan dukungan dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA).

Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT, bersama Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin, S.Pd, M.Pd pada upacara Hardikda ke-59 tahun 2018, yang berlangsung, Minggu, 2 September 2018, di lapangan Tugu Kopelma Darussalam, Banda Aceh.(FOTO | M.ZAIRIN/PENAPOST.COM)

“Dengan semua fasilitas dan program strategis yang sedemikian itu, kita berharap Aceh bisa menyiapkan generasi carong yang siap menuju era industri 4.0 sebagaimana tema Hardikda tahun ini,” ujar Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT, saat menyampaikan sambutan pada Upacara HARDIKDA ke-59 Tahun 2018.

Di era ini ia berharap pendidikan hendaknya dapat mengajarkan siswa keterampilan yang bukan saja kreatif dan inovatif, tapi juga inventif dalam artian pandai merancang dan mencipta sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada.

“Untuk mencapai target tersebut, semua pihak tentu harus terlibat secara terintegrasi dalam mendukung program-program yang telah disiapkan pemerintah. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah telah mengatur dengan jelas kewenangan dalam penyelenggaraan pendidikan ini,” harapnya.

Sehingga, lanjutnya, langkah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dapat dijalankan secara lebih bersinergi dan terpadu.Dengan demikian, dapat menjamin adanya pemerataan akses dan mutu pendidikan di seluruh Aceh, serta memastikan bahwa sistem pendidikan itu siap melayani semua masyarakat tanpa diskriminasi.

“Dalam hal ini, kita patut bersyukur bahwa ikhtiar yang telah kita jalankan selama dua tahun terakhir ini mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari keberhasilan 5.282 siswa asal Aceh lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri tahun 2018 ini,” sambung Plt Gubernur Aceh ini.

Menurutnya, jumlah ini menempatkan Aceh pada ‘peringkat lima besar’ sebagai provinsi yang paling banyak meloloskan siswa-siswinya dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri, dan ‘peringkat ketiga’ nasional sebagai penerima beasiswa bidikmisi.

“Peningkatan kompetensi guru juga mulai menunjukkan perbaikan. Jika pada tahun 2015 kompetensi guru-guru di Aceh berada pada urutan 3 terendah secara nasional, maka pada tahun 2016 mulai meningkat hingga berada pada posisi 23 nasional,” tuturnya.

Ia menyebutkan, lonjakan cukup signifikan terjadi pada tahun 2017 di mana hasil uji kompetensi guru menempatkan guru-guru di Aceh pada peringkat 15 nasional. Bahkan pada tahun ini, beberapa guru Aceh berhasil meraih penghargaan sebagai guru berprestasi nasional.

“Meski demikian, kita jangan cepat bangga, sebab pencapaian itu masih jauh dari harapan. Perlu pembenahan dan penguatan yang lebih komprehensif dalam membangun sistem pendidikan di daerah ini melalui berbagai prorgram peningkatan mutu yang berkesinambungan,” sebutnya menyampaikan.

Provinsi Aceh, katanya lagi, harus terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang terukur. Agar hal tersebut berjalan dengan baik, maka para pihak terkait, seperti kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, komite sekolah, manajemen penyelenggara, dan masyarakat harus dapat meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sesuai dengan tupoksi masing-masing.

“Pemerintah Aceh siap melakukan yang terbaik dalam mendukung langkah percepatan di bidang pendidikan ini dan akan memberikan reward yang pantas kepada mereka yang berprestasi cemerlang di bidang pendidikan,” katanya.

Ia juga menyampaikan, Pemerintah Aceh juga telah membentuk 20 cabang dinas pendidikan di kabupaten/kota guna mendukung mutu pendidikan daerah termasuk juga terus memberikan pelatihan bagi peningkatan mutu guru agar memiliki kompetensi tinggi.

“Dengan semua program tersebut, dalam tiga tahun ke depan kita berharap kualitas pendidikan Aceh mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional. Perlu saya ingatkan, saat ini dunia telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 atau revolusi industri tahapan keempat,” imbuhnya.

Prosesi Upacara Hardikda ke-59 tahun 2018, yang berlangsung, Minggu, 2 September 2018, di lapangan Tugu Kopelma Darussalam, Banda Aceh.Bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup), Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT.(FOTO | M.ZAIRIN/PENAPOST.COM)

Hal ini memberi makna bahwa teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Batas-batas antar negara semakin menipis dan e–commerce semakin berkembang sehingga menyentuh semua lini kehidupan masyarakat.

“Nah, kita harus tanggap dan mampu menyesuaikan diri dengan gerak pembangunan itu, di samping harus senantiasa dapat mempertahankan budaya bangsa sebagai benteng moral dalam mengawal perubahan zaman.

Dengan begitu, tambah Plt Gubernur, maka generasi muda Aceh mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan globalisasi, serta dapat mengontrol globalisasi itu untuk disesuaikan dengan nilai luhur bangsa ini. Lebih khusus lagi dengan nilai-nilai keacehan yang luhur.

“Semoga kerjasama yang baik ini dapat ditingkatkan, sehingga kita dapat saling bahu-membahu menyukseskan program Aceh Carong dan Aceh Meuadab di Nanggroe Aceh tercinta ini.” tambahnya menutup sambutannya.[]

(Editor | M. Zairin)

Facebook Comments

Komentar

News Feed