full screen background image

Grup Band Fieldplayer Malaysia Tampil Memukau di AIRF 2016

Share Button
Grup band Fieldplayer

Grup band Fieldplayer Malaysia, saat tampil pada Aceh International Rapa’i Festival 2016 di Meuseum Tsunami, Sabtu sore, 27 Agustus 2016. FOTO | Ist

Banda Aceh-Grup band Fieldplayer Malaysia, berhasil tampil memukau pada hari ketiga even Aceh International Rapa’i Festival 2016 di Taman Sultanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu malam, 28 Agustus 2016. Sebelumnya, grup band ini juga tampil di Museum Tsunami, pada Sabtu sore, 27 Agustus 2016. Band yang digawangi enam personil ini membawakan tiga tembang hitsnya dan disambut hangat penonton.

Diawal performanya, dengan vokalis Jart Hassan, Keyboard Johan Shamsuddin, guitar Bob Jr, drums Bob Skunjas, bass Rozek Rashid, dan percussion Nazmi Ariff, keenam personil band yang pernah tampil diberbagai pentas musik di tanah air, antaranya Surabaya Full Musik 2008 lalu, membawakan lagu berjudul “Oyoyo” dengan rancak, sehingga penonton tidak saja ikut berdendang tetapi juga bergoyang.

Tabuhan drum, perkusi, gitar, bass, dan keyboard menyatu dinamis, tiga lagu yang dibawakan membuat penonton malam itu terbuai.

Apalagi malam kemarin, band yang baru pertama kali mengunjungi Aceh ini, menghadiahkan tembang penutup dengan judul melow ‘Menangis’, yang sontak membuat suasana malam itu penuh keakraban antara Fieldplayer Malaysia dengan penonton.

“Ini tembang khusus buat penonton di Aceh International Rapa’i Festival yang belum pernah kami bawakan. Kami khusus menyanyikannya di sini,” kata Jart Hassan, sang vokalis yang disambut tepuk tangan dan sorak gembira dari penonton.

Aceh memiliki nilai kedekatan dengan band yang sudah dibentuk sejak 2004 silam. Meski baru pertama kali ke Aceh, keenam personil band yang gandrungi anak-anak muda kece ini mengaku sangat senang bisa hadir dan menghibur masyarakat Aceh.

Tim Media Center AIRF 2016 mewancarai band yang sudah berusia 12 tahun ini dibelakang pentas setelah manggung. Group band asal Kuala Lumpur, Malaysia ini ternyata ber-genre ‘New Age Malay’ yaitu genre ekperimental yang bersumber dari musik tradisi melayu.

“Kami menamakan genrenya ‘New Age Malay’, kami memadukan antara musik melayu dan juga modern,” jelas Jart Hassan, seraya mengatakan band ini hanya menggunakan alat musik tradisional rebana (bahasa malayu Malaysia rebano).

“Tadi awal lagu kami Oyoyo, bisa didengar bagaimana ritme irama musik kami. Penonton yang baru berjumpa dengan kami ikut juga bernyanyi,” kata Jart Hassan penuh semangat.

Oyoyo yang juga pernah ditembangkan di pentas musik di Surabaya 2008 lalu itu berkisah tentang tentang kondisi sosial yang sedang berkembang. Group band yang indie dan tergolong marjinal ini sudah menelurkan satu mini album, satu album penuh, dan tiga single yangndibawakan kemistri dan harmonis, tanpa menghilangkan musik tradisi Melayu.

Reporter | Rizal JP

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM