oleh

Guru Baca Tulis Qur’an Tak Di Gaji, Ini Curhatnya kepada Gubernur

00
Delegasi guru saat menemui Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Senin, 23 Oktober 2017.Dalam pertemuan tersebut turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Laisani. FOTO | IATBanda Aceh-Sejumlah guru baca tulis Qur’an yang di rekrut pada pemerintahan Irwandi periode lalu, Senin, 23 Oktober 2017, mendatangi Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.
Betapa tidak, para guru tersebut ternyata jadi bulan-bulanan di daerah yang honhga kini masih dikelola oleh Kabupaten dan Kota di Aceh.
Kedatangan pahlawan tanpa tanda jasa ini, lantaran mereka mengajar tanpa di gaji selama 10 bulan.
Kewenangan atas mereka yang mengajar di tingkat SD dan SMP saat ini berada di bawah kabupaten dan kota. Namun demikian, sudah selama 10 bulan ini, mereka bekerja tanpa mendapatkan upah. Untuk itu, mereka bersama Koalisi Barisan Guru Bersatu menemui Irwandi untuk mengeluhkan persoalan tersebut.
Menyikapi hal itu, Gubernur Irwandi memanggil Sekda Aceh dengan harapan keluhan mereka ditampung dan dijadikan bahan evaluasi pemerintah.
“Kita akan evaluasi seluruh persoalan tersebut, Kita minta supaya dianggarkan dalam APBK masing-masing kabupaten/kota pada tahun 2018 mendatang,” kata Sekda.
Ketua Koalisi Barisan Guru Bersatu, Sayuti Aulia, menyebutkan persoalan tersebut sudah seharusnya segera disikapi. “Persoalan gaji kalau memang tidak bisa tahun ini bisa untuk tahun depan, tetapi kalau SK kalau boleh harus segera,” kata Sayuti.
Menjawab hal tersebut, Asisten III Setda Aceh, Kamaruddin Andalah yang ikut mendampingi Irwandi berujar bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan memanggil Bupati dan Walikota yang daerahnya belum lagi memenuhi hak guru kontrak dan guru mengaji tersebut.
“Kita akan menyurati Bupati dan Walikota dan juga dinas pendidikan untuk menegaskan kembali persoalan hak tenaga pendidik ini,” kata Kamaruddin Andalah.
Sekjen program baca-tulis Quran, Azhari, menjelaskan bahwa program yang digagas Irwandi itu adalah salah satu usaha gubernur dalam hal menanggulangi buta baca Qur’an.
Karena sesuai untuk penguatan syariat Islam, Azhari berharap jika program itu bisa dipergubkan sebagai bentuk penegasan sehingga setiap pemerintahan di Kabupaten dan kota menerapkan hal itu.
“Jika bisa jadi program itu harus menjadi program prioritas dan dimasukkan dalam kurikulum sekolah,” kata Azhari.
Irwandi setuju dengan hal itu. Ia bahkan merencanakan membentuk tim kajian sehingga program pembentukan generasi anak Aceh tersebut bisa terlaksana.
“Kalau perlu syarat masuk SMP bisa baca Qur’an, sehingga semua orang tua tahu tanggungjawabnya untuk ikut mendidik anak,” kata Irwandi.
Dalam pengajaran, Irwandi bahkan menyebutkan bahwa¬†idealnya, per 18 siswa dilatih oleh satu guru dengan kualifikasi tinggi. “Jika perbandingan 1 guru 18 siswa, anak Aceh cerdas semua,” ujar Irwandi.[]
Reporter | Hendra S

Komentar

News Feed