full screen background image

Hak Eksklusif Kopi Gayo Segera Didaftarkan di Eropa

Share Button
Ilustrasi kopi. Foto | dok.detikcom

Ilustrasi kopi. Foto | dok.detikcom

Jakarta-Menteri Hukum dan Ham Yasonna H Laoly memberikan tiga sertifikat Indikasi Geografis (IG) terhadap komoditi khas tradisional Indonesia dan internasional. Tiga komoditi tradisional tersebut adalah Tenun Gringsing dari Bali, Tequila dari Meksiko dan Grana Padano dari Italia

Yasonna mengatakan, fungsi dari IG ini sebagai pencatatan kekayaan intelektual tradisional daerah, sehingga bisa menjadi ciri khas produk tersebut. Saat ini tercatat di Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkum HAM, IG Indonesia yang terdaftar baru berjumlah 46 sertifikat. Di mana 40 dari dalam negeri dan sisanya dari luar negeri.

“Di Indonesia baru 46 yang terdaftr, 40 kita punya, 6 dari negara luar. Termasuk tadi, Keju Grana Padano dari Italia, Tequila dari Meksiko. Kopi Gayo akan didaftarkan dengan EU (European Union) dalam waktu dekat,” ujar Yasonna di JS Luwansa Hotel Jakarta, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (29/8/2016).

IG, menurut Yasonna selain sebagai pengakuan asal produk, IG juga dapat meningkatkan nilai ekonomi suatu barang tradisional. Bahkan, nilai ekonomi dapat berlipat sepuluh kali.

“Ini penting sekali selain itu untuk meningkan ekonomi. Ini bisa mnjadi nilai ekonomi yang tinggi. Seperti tadi yang udah terdaftar Lada Muntok yang dari Rp 30 ribu menjadi Rp 200 ribu. Kopi Gayo yang tadi 30 ribu menjadi 300 ribu. Jadi sepuluh kali lipat dari itu,” kata Yassona.

Selain juga dapat meningkatkan nilai produk, wilayah penghasil produk IG dapat menjadi obyek wisata. Hal tersebut karena daerah tersebut memiliki kekhasan sebagai daya jual wisata.

“Indikasi Geografis (IG) Madu Sumba itu bisa merawat lingkungan. Karena adanya di hutan. Karena terdaftar maka harganya tinggi, maka rakyat akan menjaga hutannya agar lebih baik. Dikarenakan kekhasan geografis yang dimiliki wilayah tersebut wisatawan akan banyak mengunjungi daerah penghasil produk IG itu,” jelas Yasonna.

Sertifikat Indikasi Geografis diberikan terhadap barang khas tradisional daerah yang memiliki ciri khas khusus. Bukan hanya produk berbentuk barang, namun juga makanan dan minuman khas daerah yang diolah secara tradisional. Konsep IG sudah dicanangkan pemerintah sejak 2001 sebagai program menjaga kekhasan daerah dan meningkatkan daya saing produk lokal Indonesia di kancah Internasional. Program tersebut terbentuk atas kerjasama Kemhumham dan EU-TCF (EU-Indonesian Trade Cooperation Facility).

Nah, bagi yang menjual barang itu dan mengaku-aku barang itu dari daerah tersebut, padahal bukan, maka bisa diancam pidana penjara dan denda.

Sumber | Detik.com

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM