full screen background image

Hampir 10 Persen Lahan Pertanian di Aceh Hilang Setiap Tahun, Mengapa?

Share Button
panen-padi

Panen Padi. FOTO | T. Irawan

Banda Aceh-Hampir 10 persen lahan pertanian di provinsi Aceh setiap tahunnya dikabarkan hilang. Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menyatakan hal itu terjadi akibat alih fungsi lahan.

“Setiap tahunnya, 10 persen lahan sawah yang produktif di Aceh hilang akibat alih fungsi lahan,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Hasanuddin Darjo, melalui Kabid Tanaman Pangan Mukhlis, SP.MA Rabu, 14 Juni 2017, di Banda Aceh.

Ia menyatakan, alih fungsi lahan pertanian di Provinsi paling ujung barat Indonesia ini bermacam-macam, ada pembagunan kantor pemerintah, pemukiman warga, dan alih fungsi lahan dari sawah menjadi kebun sawit.

“Kalau, di Aceh Besar banyak areal persawahan produktif yang dibagun rumah warga, toko, dan perumahan, sedangkan di Nagan Raya dan Aceh Selatan banyak dialihkan menjadi lahan perkebunan,” katanya.

Apalagi, sambung Mukhlis, di wilayah Timur banyak perkantoran pemerintah yang dibagun di lahan persawahan, seperti kantor Bupati Pidie Jaya dan Aceh Timur yang dibagun di areal pertanian. Bahkan pelebaran jalan juga yang terkena lahan sawah produktif.

“Ini merupakan bagian yang tidak kita sadari setiap tahunnya. Namun, ketika kita menghitung luas areal pertanian yang produktif di Aceh malah semakin menyusut setiap tahunnya, setiap tahunnya lahan pertanian menyusut 10 persen,” sambung Mukhlis.

Guna mengantisipasi semakin menyusutnya lahan pertanian di Aceh, kata Mukhlis, salah satunya adalah dengan membuka lahan sawah baru di sejumlah daerah di Aceh.

Mukhlis juga menyebutkan, cetak sawah baru tahun 2017 ini seluas 5.000 hektar, sementara cetak lahan sawah baru di Aceh tahun lalu seluas 2.500 ha. “Jika program cetak sawah baru ini berhasil, maka akan menambah luas baku sawah di Aceh,” sebutnya.

Namun, menurutnya yang menjadi persoalan saat ini di Aceh terkait persoalan teknis dan harus diselesaikan terlebih dahulu, misalnya SID, kecocokan lapangan, dan lainnya. “Intinya jangan sampai setelah dicetak sawahnya tidak bisa digunakan, karena tidak ada air, dan tidak ada petaninnya, hal ini harus diselesaikan dulu sebelum dicetak sawah baru,” tutur Mukhlis.

Reporter | T. Irawan

Facebook Comments



Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.