full screen background image

Heboh Supermoon 11-14 November, Isu Bencana Muncul lagi?

Share Button
supermoon

Warga bersepeda saat supermoon terlihat di Sungai Tagus di pusat kota Lisbon, Portugal, 9 September 2014. REUTERS/Rafael Marchante/TEMPO.CO

Bandung-Bulan purnama akan terkesan lebih besar dan terang dari biasanya pada Senin malam, 14 November 2016. Fenomena yang disebut Supermoon tersebut akan terlihat di seluruh wilayah Indonesia sepanjang langit cerah.

“Supermoon dari terbit sampai terbenam, 14-15 November dini hari,” kata Avivah Yamani, pengamat astronomi dari Komunitas Langit Selatan, Bandung, saat dihubungi Tempo, Ahad, 13 November 2016.

Menurut Avivah, bulan purnama Senin akan terjadi sekitar 2,5 jam setelah bulan berada di titik terdekatnya dengan bumi. Karena berada pada jarak terdekat (perigee), piringan bulan jadi terkesan agak lebih besar dari purnama biasa.

Saat Supermoon 14 November 2016, jarak terdekat bulan dan bumi terentang 356.490 kilometer. “Sekitar 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari purnama saat bulan di posisi terjauh dari Bumi (apogee),” tulisnya dalam laman komunitas itu.

Supermoon berikutnya yang makin dekat dengan bumi, baru akan terjadi pada 26 November 2034. Saat itu jarak bumi dengan bulan sejauh 356.446 kilometer. Supermoon akan terlihat sejak bulan terbit pada pukul 17.39 WIB di ufuk timur sampai terbenam keesokan harinya pukul 05.52 WIB sesaat sebelum matahari terbit.

Pengamatan bisa dilakukan dari rumah masing-masing, dengan mata telanjang maupun alat bantu teleskop untuk melihat permukaan bulan yang bertambah terang. Tempat gelap yang bebas polusi cahaya menjadi pilihan terbaik.

Avivah mengatakan, penampakan Supermoon dibandingkan dengan bulan purnama Oktober atau Desember sebenarnya sangat kecil selisih perbedaannya. Bahkan, nyaris seperti purnama biasa. “Perbedaan besar piringan bulannya antara ketiga bulan itu tidak sampai 1 persen,” ujarnya.

Supermoon sendiri bukan peristiwa langka, karena bisa terjadi sebanyak 4-6 kali setiap tahun. Namun pada bulan purnama 14 November 2016, disebut langka karena jarak terdekat sebelumnya yakni 356.490 kilometer itu sama seperti 68 tahun silam.

Istilah Supermoon, bukan berasal dari astronomi melainkan astrologi. Richard Nolle mengenalkan istilah itu di majalah Horoscope pada 1979. Istilah Supermoon atau Bulan Super muncul kembali dan dikenal publik secara luas pada 2011 menjelang bulan purnama perigee 19 Maret.

“Isu yang disebarkan kala itu terkait bencana akibat Supermoon yang hanya hoax atau berita tipuan belaka,” kata Avivah. Saat posisi bulan berada pada jarak terdekatnya dengan bumi, gaya tarik keduanya akan menguat. Ketika bulan berada pada titik terjauh, gaya gravitasi lebih kecil dan pasang surut di bumi di level terendah.

Namun, sebaliknya saat bulan di posisi terdekat (perigee), gaya tarik akan lebih kuat sehingga efek yang ditimbulkan pada pasang surut juga lebih besar. “Tapi perbedaan pasang surut yang diberikan hanya beberapa sentimeter dan tidak akan menimbulkan efek bencana apapun,” kata Avivah.

SUMBER | TEMPO.CO 

Facebook Comments



Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.