full screen background image

India Kekurangan Psikiater, Aplikasi Ponsel Ini Dikembangkan untuk Mengatasinya

Share Button
Aplikasi Ponsel Ini Dikembangkan untuk Mengatasi Kekurangan Psikiater di India. Foto |BBC

Aplikasi Ponsel Ini Dikembangkan untuk Mengatasi Kekurangan Psikiater di India. Foto |BBC

Jakarta – Gangguan mental seperti depresi, stres, termasuk munculnya keinginan untuk bunuh diri seringkali diabaikan. Jangankan di negara berkembang, di negara maju saja kondisi ini tidak dianggap penting.

Salah satu negara yang merasakan ‘treatment gap’ ini dalam penanganan kesehatan mental adalah India. Satu dokter di pedalaman India rata-rata harus menangani 30.000 pasien lebih sekaligus, dan tak semua dari mereka adalah psikiater. Walaupun sudah mendapatkan pelatihan tentang gangguan mental, mereka juga tak selalu tahu bagaimana menangani kondisi tersebut.

Persoalan ini kemudian coba dijawab oleh sebuah proyek yang mulai dirintis The George Institute for Global Health India di West Godavari, sebuah distrik di Andhra Pradesh, India. Untuk program ini, mereka melibatkan Accredited Social Health Activist (ASHAs), pekerja kesehatan yang digaji oleh pemerintah untuk memberikan edukasi tentang kesehatan di komunitas masing-masing, misal terkait kesehatan ibu dan anak, atau sanitasi.

Tugas baru mereka adalah melakukan screening kesehatan mental pada penduduk setempat. “Mereka ini sudah lebih dikenal oleh penduduk setempat, apalagi karena adanya stigma tentang gangguan mental, warga bakal lebih terbuka pada aktivis ini ketimbang yang lain,” kata Siddhardha Devarapalli, salah satu anggota tim seperti dilaporkan BBC.

Baca juga: Dokter Juga Manusia, Bisa Capek dan Lupa Rumus

Untuk keperluan screening, para aktivitas dimodali sebuah kuesioner yang dikembangkan oleh WHO atau Badan Kesehatan Dunia, berbentuk aplikasi di ponsel pintar. Mereka tinggal memasukkan data tentang gejala yang dialami pasien ke dalam aplikasi tersebut untuk kemudian mendapatkan keterangan apakah si pasien perlu dirujuk ke dokter ataupun tidak.

Tak hanya itu, aktivis ASHAs juga melakukan pendampingan pada pasien hingga ke rumah sakit, termasuk memberikan follow-up seperti memastikan mereka minum obat dan melakukan check up rutin, jika diperlukan.

Sejauh ini, George Institute telah berhasil melakukan screening kepada 22.000 orang di 42 desa di West Godavari, dan dari situ terungkap 5 persen dari populasi di desa tersebut memang membutuhkan intervensi klinis. Bahkan hampir seluruh pasien yang membutuhkan bantuan tidak tahu-menahu jika dirinya mengidap gangguan mental, apalagi mendapatkan diagnosis pasti sebelumnya.

Diperkirakan dari 100 orang yang butuh penanganan gangguan mental di India, hanya 25 orang yang benar-benar mendapatkannya. Penyebabnya sebagian besar karena kurangnya kesadaran dan juga kurangnya tenaga kesehatan yang mampu menangani gangguan mental. Belum lagi stigma yang mengelilinginya.

“Gangguan-gangguan mental yang umum jadi lebih sulit dikenali, bahkan tidak dianggap sebagai masalah kesehatan. Banyak juga yang menganggap ini adalah karma. Akibatnya mereka juga malas mencari pengobatan,” urai Devarapalli.

Baca juga: Aplikasi Ini Bisa Bantu Pasien Mencari Rekomendasi Dokter

Meski baru tahap awal, sistem ini rencananya akan diperluas untuk mengatasi masalah kesehatan yang seharusnya mudah disembuhkan, yakni tekanan darah tinggi dan diabetes. Peneliti dari George Institute juga berharap platform ini dapat memandu dokter dan pekerja kesehatan lokal seperti ASHAs untuk membantu mendiagnosis dan memberikan pengobatan yang tepat bagi pasien yang tidak mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan.

SUMBER | DETIK.COM

Facebook Comments