oleh

Kakek Sandang: Perang Usir Belanda hingga Patungan Beli Pesawat RI

Aceh Jaya-Mengenakan baju batik, celana kain, serta peci lusuh, Nyak Sandang (91) berbicara panjang lebar soal perjalanan hidupnya. Sesekali, dia tertawa saat mengingat momen-momen lucu yang dia alami. Kadang, raut wajahnya berubah kala mengenang perjuangan melawan Belanda hingga pernah mendekam di penjara.

Pada masa penjajahan, Sandang ikut berjuang bersama anak muda lainnya. Dia bertugas melakukan pengintaian di pantai pada malam hari. Ketika matahari mulai condong ke barat, Sandang mulai bersiap-siap.

Ia membungkus nasi dan membawanya sebagai bekal. Rencong disarungkan di pinggang kiri sementara pedang klewang dia ikat di pinggang.

Sebagai kepala kelompok, Sandang bertanggung jawab penuh untuk pemantauan. Jika kapal Belanda muncul, maka dia segera mengabari pasukan lain yang bertahan di atas Puncak Gureutee di Aceh Jaya, Aceh. Kadang kala, dia kena semprot dari tentara di atas Gureutee karena terlambat melapor pergerakan penjajah.

“Saya dipilih sebagai kepala karena dalam kelompok saya, cuma saya yang ada sekolah,” kata Sandang saat ditemui di rumahnya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Aceh, Selasa (7/3/2018).

Pengintaian dilakukan Sandang dan kelompoknya secara bersembunyi-sembunyi. Mereka bertahan di dalam satu tempat. Selain menjaga arah laut, mata Sandang juga harus mengawasi kedatangan tentara Belanda dari daratan.

Pernah suatu ketika, beberapa anggota kelompoknya tidur dan menaruh pedang klewang di bawah punggung. Tiba-tiba, mereka terbangun karena terkejut sehingga langsung mencabut pedang.

“Ketika ditarik tidak sadar ternyata badannya sudah tergaris (luka) sampai ke leher,” jelas Sandang.

Selain itu, Kakek Sandang juga pernah di penjara karena tidak sanggup membayar pajak pada Belanda sebesar Rp 7,5/ tahun. Saat itu, masyarakat berusia 18 hingga 70 tahun dikenakan pajak. Sebagian warga baru dibebaskan setelah Indonesia merdeka.

“Kami berjuang dulu karena ingin mati syahid dan kedua ingin merebut merdeka dari Belanda,” ungkap Sandang yang hingga kini masih sanggup berjalan meski mata sudah tidak dapat melihat.

Pascakemerdekaan, muncul ajakan patungan untuk membeli pesawat. Warga menyambut dengan penuh keharuan dan menyumbang harga benda yang mereka miliki.

Sandang dan ayahnya kala itu menjual sepetak tanah seharga Rp 100. Uang hasil penjualan tanah disumbang dia sumbang semua. Masyarakat setempat kemudian diberi obligasi yang dikeluarkan pada 1950.

“Waktu itu saya bantu negara yang sudah kita pegang. Ini satu kebanggaan bagi saya bisa bantu negara. Saya ikhlas membantu. Tidak mengharap apa-apa. Kami waktu itu membantu tanpa adanya paksaan,” kata kakek yang pernah sekolah di sekolah rakyat atau setingkat sekolah dasar ini.

Kini di usianya mencapai satu abad, Sandang menghabiskan hari-harinya di rumah bersama istri, anak, cucu dan cicit. Tempat tinggalnya tidak jauh dari masjid. Sandang masih sanggup berjalan, hanya saja matanya sudah tidak dapat melihat dan pendengarannya mulai berkurang. Tapi ingatan Sandang masih sangat kuat.[]

Sumber | DETIK.COM 

Facebook Comments

Komentar

News Feed