oleh

Ini Kata GM Santika Indonesia Soal Keamanan Investasi di Banda Aceh

“Kami serius untuk menanamkan investasi di Banda Aceh mengingat prospeknya yang sangat bagus. Asumsi dari luar bahwa Aceh itu seram langsung sirna setelah kami melihat langsung ke sini.” | L Sudarsana

Banda Aceh-General Manager Santika Indonesia Hotels and Resorts L Sudarsana, menggelar pertemuan dengan Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman, Rabu, 21 Maret 2018  siang, di pendopo Walikota.

Kedatangan pimpinan perusahaan yang berafiliasi dengan Kompas Gramedia Group ini dalam rangka penjajakan investasi di bidang perhotelan di Banda Aceh.

“Kemarin kami sudah melihat dua lokasi yakni di Keudah dan Ulee Lheue. Nanti kami juga berencana melihat satu lokasi lagi di kawasan Batoh,” kata L Sudarsana kepada Walikota Banda Aceh.

“Kami serius untuk menanamkan investasi di Banda Aceh mengingat prospeknya yang sangat bagus. Asumsi dari luar bahwa Aceh itu seram langsung sirna setelah kami melihat langsung ke sini. Banda Aceh sangat aman dan nyaman bagi investor, apalagi pemerintahnya sangat open hands,” ujar Sudarsana yang datang bersama sejumlah koleganya.

Soal hotel yang akan dibangun, ia memastikan pihaknya akan memprioritasnya konten lokal termasuk pekerjanya.

“Soal keamanan kami sudah percaya tak ada masalah, tinggal business continuity-nya terutama soal risiko alam yang akan kami bicarakan dengan unsur manajemen lainnya di Jakarta,” ungkapnya.

Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman mengungkapkan niatnya untuk ‘menyulap’  Ulee Lheue menjadi kawasan paling ramai di Banda Aceh.

“Selain pusat kuliner Aceh, di sana sudah kita plot untuk pembangunan islamic center, tempat zikir bertaraf internasional, hotel, museum, dan juga mall.” ungkapnya.

Ia menyebutkan, saat ini Pemko Banda Aceh memiliki lahan seluas 2.500 meter persegi di kawasan Ulee Lheue, untuk digarap oleh investor.

“Kami tawarkan dilokasi tersebut karena view-nya sangat indah, dan akses ke Sabang pun dekat karena tak jauh dari pelabuhan,” katanya lagi.

Untuk lahan eks Terminal Labi-Labi di Keudah, sambung Aminullah, sebelumnya telah ada kesepakatan awal dengan investor lain.

“April nanti akan kita kaji lagi sejauh mana sudah progresnya. Intinya kami sangat welcome dan ingin memudahkan investor, yang penting bagaimana agar bisa saling menghargai dan menguntungkan,” sambung Aminullah.

Pihaknya menyadari sepenuhnya bahwa untuk membangun dan menjadikan Banda Aceh hebat tidak mungkin cukup hanya dengan mengandalkan anggaran yang ada.

“Kami butuh investor, apalagi kami sedang menggenjot sektor pariwisata habis-habisan guna mendongkrak perekonomian masyarakat,” imbuhnya.

Begitu juga terkait prasarana pendukung terutama listrik dan air bersih, Walikota memastikan sudah memadai dan akan terus ditingkatkan.

“Listrik kita sudah cukup, bahkan saat ini juga tengah dibangun PLTG berkapasitas 50 megawatt khusus untuk kebutuhan Banda Aceh. Soal air bersih memang sudah menjadi komitmen kami agar selesai pada 2019. Kini pun sebenarnya sudah bagus cakupannya dibanding daerah lain,” tutup Aminullah.[]

Reporter | Munawar HF

Komentar

News Feed