oleh

Mahalnya Biaya Politik Jadi Hambatan Perempuan Ikut Pilkada

Ketua KoDe Inisiatif Veri Junaidi (kanan).FOTO | REPUBLIKA.CO.ID
Ketua KoDe Inisiatif Veri Junaidi (kanan).FOTO | REPUBLIKA.CO.ID 

Jakarta-Ketua Konstitusi dan Demokrasi (KoDe) Inisiatif, Veri Junaidi menyoroti masalah utama calon perempuan dalam keikutsertaan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Menurutnya, tingginya biaya politik dalam proses pencalonan menjadihambatan yang besar bagi perempuan.

“Dalam proses pencalonan, kalau yang masih diandalkan ‘isi tas’ maka akan jadi kendalacukup berat. Politik uang jadi persoalan sendiri. Ketika itu masih muncul, peluangbagi perempuan akan kecil,” jelas Veri dalam diskusi di kantor KoDe Inisiatif diJakarta, Ahad (7/1).

Karena itu, Veri mendorong agar partai politik tak menerapkan biaya yang tinggi baik dalam proses pencalonan, kampanye, maupun pemilihan. Hal serupa juga ditekankan oleh Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lena Marliana.

Lena menilai,ketersediaan anggaran bagi perempuan untuk ikut serta dalam pesta demokrasipolitik menjadi hambatan tersendiri.Lena mengatakan, partai politik pengusung calon dalam pilkada lebih mengedepankan kemenangan suara.

“Perempuan yang berkompeten untuk maju, bukan soal ketidakmampuan kapasitas individu tapidihadapkan ketersediaan anggaran,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti masalah kebijakan afirmasiperempuan. Menurutnya, kebijakan afirmasi ini perlu diterapkan oleh partai politik. Bahkan dalam Undang-Undang Pemilu, lanjut dia, kebijakan afirmasi juga tak mengalami perbaikan. Justru kebijakan afirmasi perempuan mengalami kemunduran dari pada sebelumnya.

Lebih lanjut, ia juga menilai masalah kecurangan juga menjadi penghambat bagi calon perempuan untuk kembali maju dalam Pilkada. Sebab, calon perempuan akan lebih merasa jera dan takut ketika merasadicurangi oleh lawannya.

“Dari internal perempuan, mereka dianggap ketika konstelasi di Pileg itu kalah karenakurang uang dan dicurangi, mereka rata-rata jera dan membuat takut mereka,” ucapnya.

Lena pun menilai, para perempuan juga masih perlu mendapat dorongan untuk maju dalam politik. “Apalagi perempuan banyak juga yang terlibat aktif dalam majelis, doktor-doktor, tokoh perempuan NGO. Perempuan harus diencourage untuk maju,” kata Lena.[]

Sumber | REPUBLIKA.CO.ID 

Komentar

News Feed