full screen background image

Mengenalkan Murid SMA pada Mangrove di Pulau Santen

Share Button
Mengenalkan Mangrove

Siswa SMAK dikenalkan pada mangrove. ©2016 Merdeka.com 

Banyuwangi-Memasuki Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), ada satu kegiatan menarik dilakukan oleh SMA Katolik Hikmah Mandala Banyuwangi. Tidak hanya dikenalkan tentang sekolah baru, para siswa SMAK ini juga diajak untuk mencintai lingkungan sekitar sekolah. Salah satunya melakukan penanaman mangrove di Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi.

Dalam acara MPLS ini, pihak sekolah tidak hanya mengajak para siswa baru serta yang sudah kelas dua dan tiga. Melainkan juga mengajak para guru dan staf SMAK Hikmah Mandala. Totalnya ada sekitar 300 orang telah menanam mangrove di Pulau Santen dengan 1500 bibit. Mulai pukul 13.00 sampai sore hari.

“Penanaman bakau, merupakan salah satu bagian dari penerapan visi misi sekolah. Yaitu, menanamkan rasa peduli kepada lingkungan hidup. Jadi salah satu bentuk kegiatan kepedulian tidak hanya di sekolah, tapi juga di luar sekolah. Salah satunya kegiatan di Pulau Santen ini,” ujar Catur Wibawa, Kepala Sekolah SMAK Hikmah Mandala kepada Merdeka Banyuwangi, Jumat (22/7).

Selain dekat dengan sekolah, Pulau Santen merupakan area konservasi. Berdasarkan data dari Kelompok Usaha Bersama (KUB) Bintang Timur para nelayan, ada 16,8 hektare hutan mangrove di Pulau Santen yang dilindungi. Serta masih ada lagi 30 hektare hutan pantai berupa pohon santen dan 10 hektare luas laut yang sudah menjadi kawasan konservasi.

“Pulau Santen merupakan tempat potensi yang luar biasa bagi Banyuwangi. Masih banyak yang harus dikerjakan bersama, tidak cukup kalau hanya masyarakat setempat. Jadi lewat kegiatan ini, kami ingin mengenalkan kepada siswa siswi, tidak jauh dari sekolah-sekolah juga masih ada tempat-tempat yang perlu kita turut serta membantu untuk melestarikan lingkungan,” kata Catur.

Catur menambahkan, kegiatan penanaman pohon mangrove ini selain untuk membantu melestarikan lingkungan juga sebagai upaya menanamkan rasa peduli kepada siswa. Apalagi, kegiatan menanam ini merupakan yang pertama bagi SMAK Hikmah Mandala Banyuwangi.

“Saya yakin sebagian besar para siswa belum tahu, belum mengenal tanaman mangrove ini. Juga tidak terbiasa dengan berlumpur. Itu akan menjadi pengalaman sendiri untuk terjun langsung. Bahwa harus melestarikan lingkungan hidup, tidak hanya mengamati. Melihat. Tapi dengan menanam akan lebih punya rasa memiliki,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Osis SMAK Hikmah Mandala, William Sectio Mayyolendra, menjelaskan tahun ini pengenalan sekolah lebih mengutamakan sisi edukasi.

“Kegiatan pengenalan lingkungan sekolah mulai hari Senin (18/7) kemarin sampai Kamis (21/7), itu kita mengenalkan keunggulan sekolah, dinamika kelas juga. Agar siswa dapat mengerti dan memahami sekolah. Sekarang, untuk mengenalkan kepada siswa siswi baru, tentang pentingnya mangrove. Pulau Santen ini kan wilayah konservasi, jadi kami memilih pulau santen ini,” ujar Endra.

Di sisi lain, salah satu panitia penanaman mangrove, Ni Putu Okta Sri Devi mengaku turut bangga bisa membantu upaya konservasi. Selain untuk mencegah adanya abrasi, tanaman mangrove juga penting untuk penyeimbang ekosistem di Pulau Santen. Seperti untuk persinggahan burung, tempat bersembunyi ikan dan berkembang biak.

“Saya sangat senang sekali dengan kegiatan seperti ini, bagus untuk menambah pengetahuan. Dan semoga tahun depan bisa diadakan lagi. Menanam bakau ini, kita itu merasa seperti menjaga lingkungan sendiri. Jadi ada rasa bangga, wah saya turut menjaga lingkungan pesisir pantai Banyuwangi ini. Agar tidak terkena dampak dampak alam,” ujar Devi.

Tahun lalu, Okta juga pernah ikut melepaskan tukik penyu di Pulau Santen. Dari situ, dia bisa mendapatkan pengalaman bagaimana cara merawat dan melepaskan tukik. “Sama dengan menanam ini, kami juga tahu bagaimana cara menanam yang benar dan merawatnya. Dan tidak hanya menanam tapi juga mengawasi secara berkala,” lanjutnya.

Selama proses menanam pohon mangrove, para siswa SMAK Hikmah Mandala Banyuwangi mendapat arahan dari warga Kelurahan Karangrejo dan Mahasiswa Pencinta Alam Banyuwangi (Mapaba) Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba).

“Kami mendampingi proses penanaman, untuk menceritakan sejarah Pulau Santen, edukasi dan soal mangrove. Dari 1.500 yang ditanam, itu ngambilnya dari Pulau Santen juga. Kami yang menyediakan,” ujar Eno, Ketua Umum Mapaba Uniba.

Sumber | MERDEKA.COM 

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM