oleh

Menghidupkan Permainan Tradisional di Aceh

sepatu-batok-kelapa
Anak-anak bermain sepatu batok kelapa di Desa Nusa, Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Sabtu (16/4/2016). FOTO | KOMPAS.COM 

SEIRING perkembangan teknologi, permainan tradisional pelan-pelan tersingkir dari dunia kanak-kanak. Egrang, patok lele, dan sambar elang digusur playstation dan gawai. Padahal, permainan tradisional bukan sebatas hiburan.

Terdapat beragam nilai luhur di dalamnya, seperti membangun kekompakan, relasi sosial, jujur, keberanian, dan kepedulian.

Suara derap langkah anak-anak berlari disambut tepuk tangan membahana dari sudut meunasah (musala) di Desa Nusa, Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Sabtu (16/4/2016) petang.

Anak-anak itu tengah bermain balapan sepatu batok kelapa. Batok kelapa kering dilubangi di bagian tengah, lalu dimasukkan tali plastik.

Puluhan anak usia sekolah dasar tertawa terbahak-bahak menyaksikan teman yang lain bermain sepatu batok kelapa. Apalagi saat peserta nyaris terjatuh karena batok pecah, atau saat ada peserta yang terseok-seok berjalan menggunakan batok. Suasana desa yang biasa sepi, hari itu tampak riang.

Hari itu, penduduk desa mengadakan perlombaan permainan tradisional, seperti lomba lari dengan alas batok kelapa, galah atau sambar elang, dan patok lele. Peserta lomba semua anak-anak Desa Nusa. Tiga jam sebelum acara dimulai, anak-anak sudah memenuhi halaman meunasah.

“Aziz, Aziz,” teriak penonton memberi dorongan semangat.

Aziz (9), bocah berkulit gelap itu, tertinggal jauh dari rekannya. Saat Imam Sadikin (11) mencapai garis finis, Aziz masih tertatih-tatih di urutan paling belakang. ”Walaupun kalah, yang penting tetap berusaha,” ujar Aziz yang finis juru kunci.

Seusai lomba berjalan dengan alas batok kelapa, dilanjutkan dengan permainan sambar elang. Arena bermain digeser ke tanah lapang berumput. Lapangan permainan terdiri atas enam kotak persegi. Garis kotak-kotak itu dibuat dengan taburan pasir.

Permainan sambar elang mempertandingkan dua tim. Satu tim terdiri atas enam orang. Tim pertama harus mampu melewati enam kotak tersebut. Lalu, kembali ke posisi semula tanpa dapat disentuh oleh tim lawan yang bertugas menjaga di setiap kotak.
Permainan ini mengandalkan ketangkasan dan kelihaian membuka ruang bagi teman satu tim.

Puluhan

Snock Hurgronje dalam bukunya Aceh di Mata Kolonialis (1985) menyebutkan, Aceh memiliki puluhan permainan tradisional. Setiap kelompok usia memiliki permainan sendiri.

Dalam bukunya, Snock mencontohkan, anak-anak perempuan bermain simbang. Alat permaianan berupa batu-batu kecil sebesar jempol.

Cara bermainnya sangat sederhana, tapi butuh kecepatan tangan. Saat batu dilempar ke udara, tumpukan batu yang lain di lantai harus bisa diambil dengan satu gerakan, dan harus menangkap batu yang dilempar dengan tangan yang sama.

Adapun beberapa permainan untuk anak laki-laki adalah bermain gasing, sepak tempurung, dan meutak tham (mendorong dan menahan). Sementara beberapa permainan buat orang dewasa adalah galah panjang dan meugeudeu-geudeu (menyerang dan bertahan).

“Permainan ini diikuti dua kelompok pemuda dari dua kampung. Lebih disukai kalau diselenggarakan sore atau pada malam bulan purnama. Mereka berhadapan. Penonton yang menyaksikan berjubel,” kata Snock dalam bukunya.

Nilai luhur

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Syiah Kuala, TA Sakti, menuturkan, permainan tradisional lahir dari kreativitas masyarakat dan beranjak dari kondisi alamnya.

Dalam setiap permainan tradisional terdapat nilai-nilai luhur, seperti kekompakan, relasi sosial, berani, jujur, mencintai alam, dan membangun kreativitas.

Nilai-nilai itu secara pelan-pelan tertanam pada anak-anak yang terlibat dalam permainan. ”Permainan tradisional secara tidak langsung menjadi media pembentukan karakter anak-anak,” ujar Sakti.

Sakti mencontohkan pengalaman sendiri. Saat dia masih kanak-kanak dia sangat takut pada kegelapan. Namun, saat bermain cang cubet (permainan sembunyi dan mencari) pada malam hari dia tetap memberanikan diri bersembunyi dalam gelap agar tak ditemukan lawan.

Permainan tradisional juga membangun kebersamaan karena tidak ada permainan yang bisa dimainkan sendiri. Berbeda dengan permainan pada telepon pintar, bisa bermain tanpa butuh orang lain.

“Peradaban sudah berganti. Saat ini orang semakin individualis. Sesama tetangga bisa tidak saling kenal,” ucap Sakti.

Di Aceh, permainan tradisional mulai jarang dimainkan sejak era 1990-an. Saat itu, Aceh tengah dilanda konflik, permainan yang bisa dimainkan pada malam hari hilang. Perkembangan teknologi semakin menyudutkan permainan tradisional. Kini, bahkan sebagian anak tidak pernah merasakan permainan tradisional.

“Sekarang, karakter, moral, dan perilaku anak-anak semua dibentuk melalui pendidikan formal. Padahal, nilai-nilai luhur dari kegiatan tidak formal lebih mengakar,” ujar TA Sakti.

Menurut TA Sakti, hilangnya permainan tradisional dalam masyarakat adalah kerugian. Namun, di sisi lain, perubahan suatu peradaban tidak bisa hadang. Permainan tradisional kini bisa dihidupkan kembali dengan pendekatan wisata. Selain merawat budaya juga mendatangkan keuntungan ekonomi bagi daerah.

SUMBER | KOMPAS.COM 

Komentar

News Feed