oleh

Menpar Arief Yahya Ingatkan Aceh Tidak Lengah Dengan Slogan

Arief Yahya
Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc. FOTO | INDONESIANINDUSTRY.COM

Banda Aceh–Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya mengingatkan Aceh supaya tidak lengah dengan slogan Aceh sebagai negeri syariat dan merasa semua sisi kehidupannya adalah halal, terutama dalam hal makanan. Aceh menurutnya memang daerah yang menjalankan syariat Islam, tapi hal itu tidak cukup untuk menjadikan Aceh sebagai daerah wisata halal.

“Kita memang punya destinasi wisata halal, karena sudah merasa halal itu kita menjadi lengah, tapi kita butuh destinasi wisata dengan sertifikasi, sertifikasi itu tentang servis, tentang akses, ini kita perlu tingkatkan lagi,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, Senin, 19 September 2016.

Sektor wisata menurut Arief merupakan salah satu sektor unggulan kabinet kerja Jokowi-Jk, karena itu kata dia, Aceh yang memiliki potensi besar di bidang pariwisata harus mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan baik agar dapat menarik minat wisatawan baik regional maupun wiasatawan mancanegara.

“Pariwisata merupakan salah satu sektor prioritas pembangunan kabinet Jokowi-JK. Pak Jokowi menyampaikan, pastikan kemajuan di lapangan pada 10 destinasi wisata nasional, karena itu Aceh harus mampu memanfaatkan peluang ini,” seru Arief.

Pria yang telah mendapatkan gelar Menteri Pariwisata terbaik itu juga meyakini, sektor pariwisata di Indonesia merupakan salah satu sektor terbaik dan termudah dalam meningkatkan PDB, devisa dan lapangan kerja paling mudah dan murah di Indonesia. “Pariwisata sebagai penyumbang PDB, devisa dan lapangan kerja paling mudah dan murah,” sebutnya seraya mengatakan dalam PDB, Pariwisata menyumbang 10 persen PDB nasional, tertinggi di ASEAN.

Masih kata dia, PDB nasional tumbuh 4,8 persen dengan trend naik sampai 6,9 persen jauh lebih tinggi daripada industri Agrikultur, Manufaktur otoomtif dan pertambangan. Devisi pariwisata US$ 1 juta, mengahsilkan PDB US$ 1,7 juta atau 170 persen tertinggi dibandingkan industri lainnya.

Sedangkan devisa Indonesia tahun 2015 peringkat ke-4 penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3 persen. Bila dibandingkan industri lainnya, maka pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata adalah yang tertinggi, namun masih kalah dengan posisi Thailand, Malaysia dan Singapore.

“Sektor pariwisata kita saat ini masih dikalahkan oleh tentangga kita Malaysia, Singapore, apalagi Thailand. Kita tidak akan mampu mengalahkan Singapore dalam haal Invesman, karena Investor rata-rata larinya ke Singapore, dan singapore juga tidak dapat mengalahkan kita dalam hal pariwisata, karena mereka tidak punya objek wisata seperti kita, oleh sebab itu kita pasti mampu mengalahkan Singapore dan Malaysia di bidang pariwisata,” tandasnya penuh keyakinan.

Reporter | Hidayat Pulo

Komentar

News Feed