full screen background image

Menteri LHK Didesak Tak Utak-Atik Zona Inti TNGL, Mengapa?

Share Button
Kuasa Hukum GeRAM

Kuasa hukum Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GeRAM), Harli Muin (Satu dari kiri-berdasi). FOTO | Ist

Jakarta-Puluhan massa yang mengatasnamakan diri dari Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) Cabang DKI Jakarta dan komunitas masyarakat, Jum’at, 17 Maret 2017, mendatangi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di gendung Manggalan Wana Bhakti, Jakarta.

Kedatangan masa tersebut sebagai bentuk aksi protes kepada KLHK, agar tidak mengutak-atik zona inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), untuk kepentingan pembangunan listrik Geothermal.

“Pada hari ini, Jum’at 17 Maret 2017 bertempat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan dilaksanakan pembahasan internal tentang zona inti, sebuah daerah sangat penting dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), Taman Nasional Gunung Leuser dan situs warisan dunia UNESCO-Sumatran Rainforest Heritage. Daerah ini, dikenal dengan nama Kappi, berada di Jantung Kawasan yang menjadi situs penting bagi kehidupan di dunia ini,” kata Harli Muin dalam siaran pers yang diterima media ini.

Dikatakan dia, menteri lingkungan hidup Republik Indonesia, bersama pemerintah Aceh dan tim lainnya melakukan rapat hari ini, di Bogor untuk memutuskan apakah wilayah Kappi ini dapat diturunkan statusnya saat ini sebagai Zona Inti Taman Nasional Gunung Leuser menjadi Zona pemanfaatan, dengan tujuan agar sebuah proyek geothermal baru dapat dibangun oleh sebuah perusahaan PT Turki Hitay Holdings asal Turki.

“Penurunan status zonasi ini merupakan disyaratkan hukum terlebih dahulu dibawah Peraturan Menteri LHK Nomor P.46/Menlhk/setjen/kum.1/5/2016 tentang pemanfaatan jasa lingkungan panas bumi pada kawasan taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam, supaya proyek geothermal ini dapat di laksanakan. Jika wilayah Kappi tetap berstatus Zona Inti pembangunan baru ini tentunya tidak boleh dilaksanakan, ” katanya.

“Kami menyatakan menolak penurunan status zona inti diwilayah Kappi dalam taman nasional gunung Leuser, Kawasan Ekosistem Leuser dan Situs warisan Dunia UNESCO-Sumatran Rainforest Heritage’ karena ketiga poin-poin kunci berikut, ” tegas Harli lagi.

Menurutnya, perubahan status tidak sesuai dengan peraturan menteri. Wilayah Kappi sangat terkenal sebagai daerah dengan keanekaragaman hayati sanggat tinggi dan kaya, termasuk populasi-populasi penting berbagai jenis ikon serta sangat terancam punah harimau, gajah, badak dan orangutan Sumatera.

“Wilayah ini telah diberi status zona Inti, karena dipenuhi semua kriteria hukum untuk status zona inti sesuai dengan peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan P76/Menlhk-Setjen/2015 tentang kriteria zona pengelolaan taman nasional dan blok pengelolaan cagar alam, suaka margasatwa, taman hutan raya dan taman wisata alam,” tuturnya.

Ia menyebutkan, ada banyak lokasi alternatif tersedia di Aceh yang lebih dapat diterima. Berdasarkan informasi diperoleh pihaknya sebagaimana ditayangkan di laman resmi Dinas Pertambangan dan Energi Aceh, potensi energi panas bumi di kawasan hutan Ekosistem Leuser relatif kecil bila dibandingkan dengan potensi di kawasan lain di Aceh.

“Dengan jelas ditunjukkan disana bahwa, ada 14 lokasi alternatif yang tersebar di 7 kabupaten yang memiliki potensi energi panas bumi di provinsi Aceh, bila digabungkan hasil energinya mencapai lebih dari 950 MW lebih besar dibandingkan dengan hanya 142 MW di lokasi yang diajukan untuk perubahan status zonasi di Gunung Kembar dan lokasi lain di Kabupaten Gayo Lues. Intinya, hampir semua lokasi alternatif tersebut letaknya lebih dekat dengan kota-kota besar di Aceh, sehingga lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan energi, ” sebutya.

Ditambahkan dia, status zona inti tidak dapat dirubah karena perubahanya jelas tidak sesuai dengan peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan P76/Menlhk-Setjen/2015, tentang kriteria zona pengelolaan taman nasional dan blok pengelolaan cagar alam, suaka margasatwa, taman hutan raya dan taman wisata alam.

“Potensi geothermal di lokasi lokasi lain, di luar kawasan strategis nasional kawasan ekosistem leuser dan taman nasional gunung leuser di manfaatkan lebih dulu sebagai alternatif yang jauh lebih dapat diterima, ” tambahnya.

Hingga berita ini ditayang, media ini belum mendapar konfirmasi lebih lanjut dengan pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di gendung Manggalan Wana Bhakti, Jakarta. (Rls)

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM