full screen background image

Penjelasan Polisi Syariah Soal Cambuk 100 Kali Terhadap Remaja yang Berzina

Share Button
cambuk

Algojo saat sedang melakukan eksekusi cambuk. FOTO | AGUS SETYADI/DETIK.COM 

Jakarta-Dua remaja di Banda Aceh dihukum 100 kali cambuk karena terbukti berzina. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut keduanya dengan pasal ikhtilat (bermesraan) meski dalam persidangan mereka mengakui perbuatannya.

Remaja berusia 19 tahun tersebut juga bersedia bersumpah untuk mempertanggungjawabkan ucapannya.

Kasatpol PP dan WH (Polisi Syariah) Kota Banda Aceh Yusnardi mengatakan, penyidik polisi syariah Kota Banda Aceh dan JPU mengenakan pasangan remaja ini dengan pasal 25 tentang Iktilah yang diatur dalam Hukum Jinayat. Pasalnya, tidak ada empat orang saksi yang melihat secara langsung saat mereka bersetubuh.

Keduanya memang ditangkap oleh masyarakat saat berada di sebuah rumah kos di kawasan Beurawe, Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh. Meski demikian, tidak ada warga yang mau menjadi saksi dan melihat langsung perbuatan keduanya.

“Dihukum acara tentang zina juga diatur kalau yang bersangkutan mengakui di persidangan bahwa dia telah berzina, maka hakim menyumpahnya,” kata Yusnardi kepada wartawan usai cambuk, Senin (28/11/2016).

Karena pengakuan dan bersedia disumpah itulah menjadi alasan hakim memvonis keduanya dengan pasal tentang zina. Hukuman terhadap terpidana zina yaitu 100 kali cambuk. Walaupun ditangkap dua bulan lalu, keduanya tidak mendapatkan pengurangan hukuman.

“Hukuman hudud tidak dikurangi,” jelas Yusnardi.

Menurutnya, keduanya dibekuk warga dua bulan lalu sekitar pukul 01.00 WIB dinihari. Setelah ditangkap, mereka kemudian diserahkan ke Polisi Syariat untuk diperiksa. Selama pemeriksaan, pasangan remaja ini ditahan di tahanan Satpol PP dan WH Provinsi Aceh.

Mereka menjalani persidangan di Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh dan divonis pada Rabu (23/11) lalu. Setelah ada putusan, ZF (19) asal Aceh Besar ditahan di Rutan Kajhu, Aceh Besar dan RF (19) mendekam di Rutan Perempuan Lhoknga, Aceh Besar.

Keduanya dibawa menggunakan mobil tahanan jelang eksekusi cambuk. Proses cambuk disaksikan ratusan warga berbagai usia.

Satu persatu terpidana selanjutnya dihadirkan ke atas panggung. Setelah diperiksa kesehatan oleh tim medis, giliran algojo melaksanakan tugasnya.

“Saat sidang mereka tidak memakai pengacara. Kita memberikan keleluasaan bagi mereka untuk memakai pengacara,” ungkap Yusnardi.

SUMBER | DETIK.COM 

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM


Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.