oleh

Potret Pendidikan di Pelosok, Beratap Langit Berlantai Tanah

Banyuasin-Meski sebagai pencetus program sekolah gratis sejak 2002, di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, masih terdapat bangunan sekolah yang bisa dikatakan tak layak pakai. Hal itu dibuktikan dengan adanya Sekolah Dasar yang hanya beratap terpal dan berlantai tanah.

Sekolah itu adalah SDN 2 yang terletak di Dusun Bangsa, Desa Mangsang, Kecamatan Bayung Lincir, Musi Banyuasin. Untuk menuju tujuan, harus melalui jalur darat atau sungai selama lima jam dari ibukota kecamatan. Rute semakin sulit jika hujan turun karena jalanan rusak parah.

Keberadaan SD itu diketahui dari akun Instagram sumantri-hamdani tertanggal 11 Agustus 2017. Dia mencantumkan beberapa foto tentang kondisi sekolah dan murid belajar.

Dia menulis, sekolah itu didirikan dengan tenda kecil yang beratapkan terpal bocor, lantai tanah, kayu penyangga atap sudah lapuk, dan tidak memiliki dinding. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena murid-murid harus basah kuyup jika hujan turun.

“1 tenda ini dibagi untuk kegiatan belajar siswa dari kelas 1 sampai kelas 5 SD. Dari 3 orang guru yang ada, semuanya hanya guru honor yang dibantu oleh beberapa tim relawan mahasiswa dan tidak ada pegawai PNS yang ditugaskan di tempat ini,” tulis sumantri-hamdani, Jumat (11/8).

Berikut caption foto yang diunggah sumantri-hamdani di akun Instagram:
SDN 2 Mangsang, Sekolah Tertinggal di Dusun Bangsa, Desa Mangsang, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

sekolah-beratap-langit
Sekolah beratap langit. FOTO | MERDEKA.COM 

Tanggal Kunjungan: Kamis 10 Agustus 2017
Nama: SDN 2 Mangsang
Jumlah Siswa: 40 orang
Jumlah Guru: 3 orang (guru honor dibantu oleh Tim Relawan)
Alamat: Dusun Bangsa, Desa Mangsang, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan

Keterangan: Sekolah tertinggal
SDN 2 Mangsang tidak memiliki bangunan sekolah sendiri, untuk proses belajar mengajar sekolah ini menggunakan bangunan balai tenda kecil yang beratapkan dengan terpal.

Kondisi ini sangat memprihatinkan seperti halnya ketika kami berkunjung ke lokasi ini saat itu dalam kondisi hujan, sehingga kegiatan belajar dan mengajar sempat terhenti karena tenda basah terguyur air hujan dan siswa yang sedang belajarpun basah kuyup.

Kondisi tenda tempat belajar mengajar :
Lantai tanah, atap dari terpal yang sudah bocor di beberapa bagian, kayu-kayu rangka penyangga atap sudah lapuk, dan tidak memiliki tembok/dinding.

1 tenda ini dibagi untuk kegiatan belajar siswa dari kelas 1 samapai kelas 5 SD.
Meja dan kursi belajar sebagian besar sudah rusak, banyak siswa yang kekurangan pakaian sekolah sehingga mereka harus bersekolah menggunakan pakaian sehari-hari dan minim juga fasilitas buku yang digunakan untuk kegiatan belajar dan mengajar.

Dari 3 orang guru yang ada, semuanya hanya guru honor yang dibantu oleh beberapa tim relawan mahasiwa dan tidak ada pegawai PNS yang ditugaskan di tempat ini.

Murid tidak dikenakan biaya sekolah.. Jadi praktis 3 orang guru dan relawan tersebut tidak mendapatkan bayaran sama sekali.

Jarak tempuh ke Desa Mangsang dapat ditempuh dengan jalur darat dan jalur Sungai Lalan. Jalur darat yang kondisi jalannya rusak dapat memakan waktu selama 5 jam menuju lokasi dari jalan lintas timur kecamatan Bayung Lencir jika menggunakan kendaraan bermotor. Jika menggunakan jalur Sungai Lalan menuju lokasi dapat ditempuh selama 2 jam menggunakan kendaraan sungai (speedboat).

Mari bersama-sama mengulurkan tangan untuk membantu adik-adik dan saudara-saudara kita yang ada di desa mangsang.[]

Sumber | MERDEKA.COM 

Komentar

News Feed