full screen background image

Pulo Aceh,  dari Pesona Alam Memukau hingga Peninggalan Belanda

Share Button
Seorang wisatawan sedang menikmati keindahan panorama alam dari puncak menara William's Toren lll di Pulo Aceh. Foto | Hidayat

Seorang wisatawan sedang menikmati keindahan panorama alam dari puncak menara William’s Toren lll di Pulo Aceh. Foto | Hidayat

Aceh Besar – Siapa yang tidak tahu, Pulo Aceh adalah sebuah Kecamatan dan merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Pulo Aceh termasuk ditetapkan sebagai daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal), terlatak di bagian paling barat Indonesia yang dikenal memiliki keindahan dan pesona alam yang memukau.

Sebagian wisatawan dari daratan yang berkunjung ke Pulo Aceh bahkan menganggap pulau tersebut layak mendapatkan perhatian khusus dari pemkab Aceh Besar bahkan Pemerintah Aceh.

”Seharusnya pulau ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah, karena punya pesona alam yang sangat bagus,” kata seorang wisatawan bernama Rahmat.

Rahmat yang datang dari Aceh Barat Daya merasa terkesan dengan panorama alam pulau paling barat Indonesia itu. Menurut dia, kedatangannya ke Pulo Aceh karena ingin menghilangkan rasa penasaran yang selama ini bersemayam di pikirannya.

”Saya datang ke Pulo Aceh karena penasaran dengan keindahan alamnya, selama ini sering saya lihat foto-fotonya di dinding facebook teman saya. Karena sangat penasaran makanya saya luangkan waktu khusus kesini,” ungkapnya.

Selain panorama alam yang memanjakan mata wisatawan, ternyata ada hal lain yang didapatkan Rahmat saat berkunjung ke pulau yang terletak di depan Nol Kilometer Indonesia itu, yaitu sebuah menara peninggalan Belanda yang berada di Ujong Peuneung, Desa Meulingge, kemukiman Pulo Breueh Utara.

Menara Mercusuar William’s Toren itu populer dengan sebutan ”Lampu” di kalangan masyarakat setempat. Menara yang memiliki tinggi sekitar 85 meter itu berdiri dengan gagah hingga saat ini walaupun bangunan lain di Pulo Aceh sempat hancur saat terjadi tsunami 2004 lalu.

”Yang membuat saya sangat bersemangat adalah ketika teman saya dari Desa Gugop mengajak saya ke sebuah menara dengan warna merah putih setinggi hampir 85 meter di Desa Meulingge, ternyata itu adalah sebuah menara peninggalan Belanda masa penjajahan dulu,” cetus Rahmat.

Saat hendak menaiki menara setinggi 85 meter itu, Rahmat dan temannya yang berasal dari Pulo Aceh atau disebut awak pulo sempat diingatkan petugas yang menjaga tempat itu supaya menjaga tempat tersebut tetap bersih dari sampah dan coretan-coretan.

”Tapi kami sempat diingatkan juga oleh petugas agar tidak mengotori tempat tersebut, karena beberapa kali sempat dicoret-coret oleh rombongan mahasiswa yang datang dari Banda Aceh. Tempat itu akan dijadikan tempat wisata sejarah Pulo Aceh,” pungkasnya.

Bagi anda yang penasaran dengan keindahan alam Pulo Aceh atau ingin melihat langsung situs sejarah peninggalan Belanda seraya menikmati suasana alam yang sangat indah dari atas menara setinggi 85 meter itu, ayo segera berkunjung ke Pulo Aceh.

Reporter | Hidayat

Facebook Comments



Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.