oleh

Putra Aceh Menebar Bakti di Belantara Papua

00
Muhammad Zaki
MUHAMMAD Zaki bersama murid SD di Papua. FOTO | ACEH.TRIBUNNEWS.COM

ZAKI kecil tidak pernah berpikir akan menginjakkan kaki di Papua. Bahkan dia tidak pernah bercita-cita bekerja di luar Aceh setelah lulus kuliah. Namun garis tangan laki-laki yang bernama lengkap Muhammad Zaki (27), lulusan FKIP Umuslim tahun 2014 tersebut membawanya menyasar pelosok Papua, menghabiskan waktu dan bertaruh nyawa di hutan belantara dengan mendidik putra-putri di provinsi ujung timur Indonesia tersebut.

Zaki mengisahkan petualangannya kepada Kabag Humas Umuslim, Zulkifly MKom yang kemudian diteruskan ke e-mail redaksi Serambi. Pada Desember 2015, kata Zaki mengisahkan perjalanannya, dia mengikuti seleksi Program Guru Penggerak Daerah Terpencil melalui program Pokja Papua.

Seleksinya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Ada ratusan peserta yang lolos, dan Zaki satu-satunya yang berasal dari Aceh. Pemuda asal Desa Cot Kruet Makmur, Kabupaten Bireuen, ini kemudian diterbangkan ke Papua. Dia ditempatkan di Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Januari 2016.

Untuk mencapai sekolah tempat dia mengajar di Distrik Mbiandoga, Zaki harus terbang dengan pesawat perintis. Lama terbangnya sekitar 20 menit dari Kabupaten Nabire dengan harga tiket Rp 2 juta sekali terbang.

Setelah turun dari pesawat di sebuah landasan yang dikelilingi ilalang kawasan Intan Jaya, dia masih harus berjalan kaki naik-turun gunung sekitar dua hari dua malam. Semua jalur dan sarana transportasi ini sudah ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya.

“Kondisi pendidikan di Papua sangat jauh berbeda dengan apa yang saya lihat dan rasakan di daerah terpencil Aceh. Papua masih sangat tertinggal dan serbakekurangan. Topografi wilayah yang bergunung-gunung membuat provinsi ini benar-benar terisolir, bahkan tidak ada jalan akses sama sekali,” katanya.

Jika tidak ada pesawat, lanjutnya, butuh waktu seminggu berjalan kaki. Ini pun dengan asumsi tidak ada gangguan di jalan, seperti binatang buas atau sedang perang antarsuku. Bukan rahasia, lantaran banyaknya suku yang mendiami kawasan tersebut, perang kerap terjadi.

Makanan pokok di Papua sangat mahal. Beras dengan berat 25 kg harganya Rp 1,3 juta, gula Rp 50.000/kg. Sebagian besar masyarakat belum memakai baju dan belum bisa berbahasa Indonesia. Di sekolah Zaki mengajar, SD Inpres Mbiandoga, usia murid antara 15-25 tahun. Murid tersebut hanya punya satu baju sekolah di badan yang diberikan Zaki. Inilah satu-satunya baju yang mereka pakai, untuk selamanya.

“Proses belajar mengajar tanpa alat apa pun, tidak ada papan tulis, kapur, dan alat peraga lainnya,” tulisnya. Sesekali Zaki berinovasi, menggoreskan di tanah dengan kayu. Namun, ini bukanlah cara yang efektif dalam mengajar. “Embusan angin menerbangkan butir-butr debu, menghilangkan goresan yang ada.”

Dia berbelanja ke Nabire tiga bulan sekali dengan menggunakan pesawat. Namun, harga barang-barang bawaan dihitung Rp 30.000/kg yang membuat dirinya membatasi jumlah. Belum lagi ongkos pesawat yang mencapai Rp 2 juta sekali terbang.

Di tempat Zaki bertugas tidak ada listrik, jaringan HP, pasar, apalagi wifi. Untuk akses ke ibu kota kabupaten, butuh waktu tiga hari berjalan kaki. Saat tiba di Kabupaten Intan Jaya, Zaki biasanya menginap di hutan terlebih dahulu satu malam, kemudian mengirim kabar kepada siswa untuk menjemput barang bawaan. Barulah kemudian mereka bersama-sama membawa pulang barang, menuju sekolah tempat belajar. Itu pun kalau suasana daerah aman. Jika sedang perang, berarti harus menunggu dulu sampai reda.

Di Kecamatan Mbiandoga sendiri terdiri ada 8 suku dan 8 bahasa daerah, sehingga untuk berkomunikasi dengan masyarakat sangat susah, apalagi 95 persen warga belum bisa berbahasa Indonesia.

Mereka tidak mengenal mata uang dan bahkan makanan pokoknya masih ubi alias boh keupila. Pakaian yang dipakai masyarakat sangat lusuh dan koyak. Untuk mendapatkan baju kaos ke Nabire, misalnya, warga butuh biaya hampir Rp 5 juta, terutama karena mahalnya ongkos transportasi. Di sisi lain, warga tidak berpenghasilan sama sekali. “keterbatasan inilah kami coba perkenalkan pendidikan kepada masyarakat. Kami ditutut lebih aktif, kreatif, dan bersifat sosial,” kata mantan honorer di SMPN 5 Sawang ini.

Zaki mengaku mulai menikmati suasana yang serba tak normal itu. Ada kebahagiaan tak terhingga ketika berhasil menularkan ilmu untuk putra-putri Papua meskipun hanya satu abjad. Saat ditanya apakah ingin mengabdi sepanjang hayat di hutan Intan Jaya, Zaki membalasnya dengan ikon senyuman. Pemuda lajang ini mengaku mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari warga setempat.

“Saya dua tahun kontrak di sini. Sekarang kebetulan sedang di Nabire,” kata dia dalam e-mail terbaru, Sabtu pagi kemarin.

Keberanian, keteguhan sikap, dan keikhlasan mengabdi merupakan kunci utama Pak Guru yang satu ini untuk menaklukkan belantara Papua. Dia mengaku banyak berutang budi ke kampus Umuslim. Zaki mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika, terutama Rektor Universitas Almuslim Dr Amiruddin Idris SE MSi yang selalu memotivasi dan mewariskan keteladanan untuknya.

SUMBER | ACEH.TRIBUNNEWS.COM

Komentar

News Feed