full screen background image

Semua Dimulai Dari Rumah

Share Button

“Right is right even if no one is doing it; wrong is wrong even if everyone is doing it.” – Augustine of Hippo

Bicara tentang moralitas memang sebuah hal yang lumayan sulit. Karena masyarakat urban abad ini sepertinya sedang meraba-raba, manakah kebenaran dan apa yang salah? Tidak ada lagi hitam atau putih. Yang ada hanyalah area abu-abu. Banyak orang akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu (yang salah menurut ukuran etika, moral dan agama) karena mendapati bahwa sekelilingnya juga melakukan hal yang sama.

Contohnya? Sepasang kekasih yang memiliki karier gemilang memutuskan untuk berpacaran. Tak berapa lama merekapun bertunangan. Beberapa hari usai acara pertunangan mereka berlibur ke sebuah pulau berdua saja, dan dengan bangga memamerkan perjalanan ‘honeymoon premature’ itu di media sosial. Teman-teman yang melihat kemudian mengungkapkan rasa turut bahagia, seolah hal yang mereka lakukan itu sesuatu yang wajar, sewajar makan tiga kali sehari.

Saat ini, semua yang salah dianggap benar, apabila mendatangkan kesenangan. Dan semua yang benar dianggap kuno, karena merasa “Sudah tidak ada lagi orang yang melakukan hal itu, jaman sekarang ini.”

Dapat dipastikan, saat sepasang kekasih diatas membangun keluarga dalam pernikahan yang sesungguhnya, mereka akan menjadi orangtua paling paranoid yang memiliki ketakutan besar dalam menjaga anak-anaknya.

Mengapa? Karena sesungguhnya, jauh didalam hati mereka, mereka tahu betul, bahwa apa yang dulu mereka lakukan adalah sebuah pelanggaran terhadap nilai-nilai moral, etika dan agama. Dan mereka sangat khawatir bila anak-anaknya melakukan hal yang sama. Setiap gerak-gerik anak-anak selalu dipandang dengan penuh curiga. Rajin menyelidiki dan tak mudah percaya.

Lalu bagaimana cara membangun sebuah keluarga agar suami, istri dan anak-anak menjadi sosok yang menghormati nilai-nilai moral dan etika? It’s time to go back to the basic principle. Everything starts from our home.

Rumah haruslah menjadi awal dan sumber segala hikmat dan pengetahuan akan nilai-nilai kebenaran. Apapun latar belakang kepercayaan setiap orang, pasti memiliki aturan-aturan dan nilai-nilai kesucian yang dijunjung tinggi.

Menjadi orangtua di zaman globalisasi tanpa batas seperti ini memang bukan pekerjaan mudah dan menyisakan PR yang amat banyak dan rumit. Tetapi keputusan ada ditangan kita, para orangtua. Apakah Anda dengan sungguh-sungguh mau menyediakan waktu untuk mengajar dan mendidik anak-anak Anda tentang nilai-nilai itu? Ataukah kita memilih untuk menyerahkan semua itu kepada lingkungan (yang akan dengan senang hati mengajarkan segala hal kepada anak-anak kita without any filter!) And that is scary.

Kita harus mulai mengubah pola pikir dalam menilai sebuah kesuksesan. Membekali anak dengan kebutuhan jasmani tak lantas membuat kita menjadi orangtua yang sukses. Kesuksesan menjadi orangtua di zaman ini seringkali dinilai dari sudut-sudut yang kurang tepat. Seperti: Dimana anak-anak bersekolah, les apa yang mereka ambil, dengan kalangan mana mereka berteman, prestasi apa yang mereka peroleh di sekolah, tanpa peduli pada pertumbuhan rohani dan kedewasaan moral mereka.

Kesuksesan jasmani dan materi tentulah sebuah pencapaian yang baik dan membanggakan. Tetapi jika hanya itu yang menjadi tujuan dan acuan kita sebagai orangtua, maka celakalah kita!

Apakah mereka menjadi remaja yang dapat berkata tidak pada seks bebas? Menolak narkoba? Hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kesucian? serta menjadi contoh bagi teman-temannya yang tersesat dan salah pergaulan? Ini merupakan kesuksesan yang sejati dan utama. Sementara kesuksesan jasmani dan materi yang diperoleh anak-anak itu hanyalah pendukung (walaupun tak kalah pentingnya).

Kesuksesan yang terlihat oleh mata dapat hilang kapan saja. tetapi mental dan karakter yang kuat, kedewasaan rohani serta pengertian yang dalam akan pentingnya nilai-nilai etika dan moral adalah kesuksesan yang tak dapat dicuri oleh siapapun dan apapun juga!

Sebuah bahan perenungan yang dalam bagi setiap kita, para orangtua. Ingatlah bahwa semua dimulai dari ayah dan ibu. Mungkin masa lalu Anda tak terlalu gemilang untuk dijadikan contoh bagi anak-anak Anda. Tetapi justru dari situlah kita belajar, bahwa mengajarkan hikmat dan nilai-nilai kebenaran kepada anak-anak kita merupakan harta abadi serta warisan terbesar yang harus kita berikan, jaga dan lakukan kepada mereka tanpa batas waktu.

Mari ambil alih kendali dalam mendidik anak-anak kita. Jangan biarkan mereka terombang-ambing mencari-cari dari sumber yang salah. Mari berkomitmen menjadi orangtua yang peduli terhadap pendidikan moral dan mental anak-anak kita. Dan semua itu dimulai dari satu tempat yang tidak jauh, yaitu rumah kita sendiri!

SUMBER | BERITASATU.COM 

Facebook Comments



Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.