full screen background image

Siswa Ini Berlari Dari Sekolahnya dan Menyelamatkan Diri

Share Button
Simulasi

Guru bersama seorang siswa mengangkat siswa yang ketakutan saat simulasi gempa dan tsunami di Kabupaten Aceh Besar. Foto | Junaidi Hanafiah/mongabay.co.id 

Banda Aceh–Puluhan siswa-siswa dari tiga sekolah mengikuti simulasi bencana yang digelar Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh, Kamis (28/7/2016) di Gedung penyelamatan bantuan Jepang di lokasi Kantor BPBD Kota Banda Aceh.

“Selain simulasi, hari ini kita juga melakukan uji coba gedung penyelamatan yang dibangun dengan kontruksi baja bantuan Jepang melalui Perusahaan Nippon Steel & Sukimin Metal Products Co.,Ltd (NSPM),” ujar Kepala BPBD Kota Banda Aceh, Ridwan yang ikut didampingi Genenal Manager NSMP, Hirotaka Futamura.

Simulasi bencana yang digelar dimulai dari masing-masing sekolah para siswa, yakni MAN 2, MIN Teladan dan SD Bayangkhari. Para siswa ini berlari dari sekolahnya dan menyelamatkan diri di atas Gedung milik BPBD tersebut.

Kata Ridwan, simulasi dilakukan agar para siswa mendapatkan pengetahuan bagaimana upaya untuk menyelamatkan diri saat musibah terjadi, seperti musibah tsunami. Simulasi digelar juga sebagai upaya agar para siswa tidak panic saat menghadapi bencana.

Pantauan dilapangan, tiba di atas gedung, para siswa yang didampingi para guru diberi pengetahuan terkait bagaimana cara-cara menyelamatkan. Selain itu, para siswa juga diberi kesempatan bertanya langsung kepada Hirotaka Futamura terkait manfaat dari gedung penyelamatan yang dibangun berdekatan dengan Kantor BPBD Kota Banda Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, Hirotaka mengatakan pada saat tsunami di Jepang dia banyak kehilangan orang-orang dekat yang menjadi korban. Secara keseluruhan, musibag tsunami di Jepang pada tahun 2011 menewaskan sedikitnya 20 ribu orang.
“Dengan mengikuti simulasi, adik-adik akan memiliki pengetahuan untuk kemudian disampaikan kepada orang tua, teman dan saudara. Artinya, selain berguna untuk menyelamatkan diri sendiri, juga bisa menyelamatkan orang lain,” ungkap Hirotaka.

Ia mengaku puas melihat animo para siswa yang mengikuti simulasi bencana. Katanya, gedung berkontruksi baja yang dibantu pihaknya harus menjadi alat pendidikan kebencanaan bagi warga Banda Aceh, terutama bagi generas muda dengan harapan mereka memiliki pengetahuan tentang kebencanaan dan upaya menyelamatkan diri.

“Dulu Jepang juga telah membangun sejumlah gedung escape building di Banda Aceh, tapi saat gempa besar pada tahun 2012 lalu, terlihat tidak banyak masyarakat yang memanfaatkan gedung tersebut untuk menyelamatkan diri. Saya pikir simulasi harus terus dilakukan sebagai bentuk sosialisasi,” harap Hirotaka Futamura.

Terkait dengan lokasi gedung yang jauh dari pantai, Hirotaka menyampaikan, pada tahun 2011 mayoritas rakyat Jepang menganggap bahwa musibah tsunami hanya akan memakan korban warga yang dekat dengan pantai. Namun kenyataannya juga sangat banyak korban yang lokasinya jauh dari pantai.

“Tidak mesti harus dekat dengan pantai, di lokasi seperti ini juga dibutuhkan gedung penyelamatan seperti ini untuk menyelamatkan diri, seperti di Jepang,” tambahnya.

Reporter | Rizal JP

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM