oleh

Siswa Yatim SMK Terharu Bisa Ikut Pelatihan Mobile Training Unit

Banda Aceh-Dinas Pendidikan Aceh kembali melanjutkan program pelatihan keliling Mobil Training Unit (MTU) bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).Bahkan, kehadiran truk kontrainer yang didalamnya berisikan alat praktik membuat siswa-siswi Yatim terharu karena berkesempatan mengikuti pelatihan tersebut.

Seperti halnya disampaikan Nur Ifdayani, siswi Kelas X Jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) SMK Negeri 2 Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Selasa, 25 September 2018.

Ia mengaku terharu dan senang atas kehadiran alat praktik Mobil Training Unit (MTU)-1 bantuan Swiss Contact yang didatangkan oleh Dinas Pendidikan Aceh ke sekolah tempat ia mengenyam pendidikan selama beberapa hari.

“Tentunya saya senang dan terharu karena alat praktik MTU bisa datang ke sekolah ini.Apalagi, kita langsung dapat mengenal dan mengetahui alat praktik yang selama ini belum ada di sekolah,” ujar Nur Ipdayani didampingi teman sekelasnya Irvan Armansyah.

Sekedar informasi, selain untuk SMK baik yang dikelola pemerintah maupun masyarakat, sasaran program pelatihan keliling Mobil Training Unit (MTU) ini juga untuk SMK Swasta di Dayah di Aceh.

Bagi Nur Ifdayani, dipilihnya jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), lantaran dirinya mempunyai cita-cita besar yaitu kelak nantinya mengikuti jejak sukses yang pernah diraih desainer hebat lainnya.

“Saya memilih jurusan ini karena mempunyai cita-cita kelak nantinya untuk dapat membangun rumah untuk sang orang tua (Ibunda), karena ayah telah tiada (meninggal),” ucapnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.

Tekad Nur Ifdayani ini menjadi salah satu gambaran betapa masih ada anak yang memiliki cita-cita mulia. Dibayang-bayangi perasaan trauma atas kehilangan sang ayahanda yang meninggal beberapa waktu lalu, tidak menyurutkan semangatnya untuk meraih cita-cita sebagai desainer sukses.

Siswa SMKN 2 Simpang Kiri Kota Subulussalam, saat sedang mengikuti pelatihan Mobile Training Unit (MTU).(FOTO | M.ZAIRIN/PENAPOST.COM)

“Saya akan terus belajar untuk menggapai kesuksesan yang saya cita-citakan ini.Karena itu, saya menganggap pelatihan yang difasilitasi oleh pihak Dinas Pendidikan Aceh ini sangat berguna dan perlu dilanjutkan secara terus menerus,” kata Nur Ipdayani penuh semangat.

Kabid Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Aceh, Teuku Miftahuddin, M.Pd, melalui Kasi Kurikulum Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Aceh, Dr. Asbaruddin, MM, M.Eng, menjelaskan, edutechnoprenuer Islami yang ditetapkan dalam kurikulum Aceh berbasis teknologi dan kewirausahaan yang Islami.

“Salah satu daya dukungnya adalah mobil training unit atau unit pelatihan bergerak.Nah, MTU ini bertugas menjelajahi seluruh SMK yang ada di Aceh. Hasil yang diharapkan adalah lulusan SMK yang mampu menguasai teknologi, sehingga mampu bersaing mendapatkan pekerjaan dan mampu berwirausaha dan berkarakter Islami, hal ini sesuai konsep Eduteknoprenier Islami,” terang Dr. Asbaruddin, MM, M.Eng.

Segala upaya peningkatkan kompetensi keahlian bagi peserta didik di SMK yang islami terus dilakukan Dinas Pendidikan Aceh. Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan mengembangkan kurikulum nasional menjadi kurikulum Eduteknoprenuer Islami.

Ia menyebutkan, MTU yang berisikan 12 set alat praktik kompetensi keahlian dilengkapi teknisi dan instruktur profesional yang mampu melatih siswa memproduksi barang dan jasa serta memberi bekal bagaimana membuka usaha baru.

“Hakikatnya ialah untuk mewujudkan visi dan misi Pemerintah Aceh bidang pendidikan yaitu Aceh Carong,” sebutnya.

Kasi Kurikulum Bidang Pembinaan SMK pada Dinas Pendidikan Aceh Dr Asbaruddin MM, M.Eng.(FOTO | M.ZAIRIN/PENAPOST.COM)

Ia menyebutkan, pada tahun 2018 ini MTU sedang dan telah turun ke 20 SMK dengan 80 kompetensi keahlian yang dikelola oleh Pemerintah Aceh dan masyarakat serta 10 SMK Swasta dengan 30 kompetensi keahlian di lingkup Dayah di seluruh Aceh.

“Pelatihan ini dibagi dalam 10 angkatan, dan telah berlangsung hingga 31 Oktober 2018 mendatang. Hal ini sehubungan diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC), untuk itu kita terus memotivasi semua pihak guna mempersiapkan tenaga kerja siap pakai untuk mengantisipasi peningkatan mobilisasi tenaga kerja antar Negara ASEAN,” sebutnya menjelaskan.

Menurutnya, hal ini sebagai salah satu upaya Pemerintah Aceh yang harus dilakukan dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia(SDM) yang mampu membuka usaha baru dan mampu bersaing dalam mendapatkan pekerjaan.

“Intinya, SDM yang dipersiapkan haruslah benar-benar qualified dan sertificated sehingga bisa bersaing dengan SDM dari negara-negara ASEAN dan negara lainnya. Strategi mengahadapi MEA sangat diperlukan, terutama di bidang pemberdayaan pengembangan SDM terampil,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan, Elimination of Non-Tariff Barriers dan Single Window mengakibatkan tenaga kerja dari luar negeri lebih mudah bermigrasi ke Indonesia. “Mereka (tenaga kerja asing) yang memiliki keahlian di atas keahlian SDM Indonesia, tentu akan sulit bagi tenaga kerja Indonesia mendapat pekerjaan di perusahaan yang ada di Indonesia jika hal ini tidak diantisipasi secepat mungkin,” terangnya.

Hal ini, katanya lagi tentu saja didasarkan pada keyakinan atas manfaatnya yang secara konseptual meningkatkan partumbuhan ekonomi dikawasan ASEAN. “Dan yang paling diprioritaskan oleh pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan peluang tersebut adalah dengan meningkatkan pemberdayaan potensi yang dimiliki, salah satunya adalah pemberdayaan SMK,” katanya lagi.

Ia juga menyampaikan bahwa, Pemerintah Aceh senantiasa memotivasi SMK memiliki lembaga sertifikasi profesi pihak pertama (LSP P1) agar tamatan SMK Aceh tidak hanya mendapatkan ijazah tapi juga sertifikat kompetensi keahlian sehingga dapat diakui di dunia usaha/industri dan mampu berkompetisi menembus pasar tenaga kerja tingkat nasional dan Internasional.

“Model program pelatihan Mobile Traininng Unit (MTU) adalah mendidik, dan melatih siswa SMK supaya mampu membuka usaha baru dan dapat bersaing dunia industri.

Tiga unit MTU yang ditempatkan di SMK memiliki keunggulan yang berbeda. MTU 1 berisi peralatan pendukung jurusan Teknik Bangunan dengan Kompetensi Keahlian Briclaying, Cabinet Making, Joinary, Plumbing.

MTU 2: digunakan untuk medukung jurusan Teknik Elektro dengan Kompetensi Keahlian Elektronika, Listrik Instalasi, Multimedia dan Teknik Informatika.

MTU 3: digunakan untuk medukung jurusan Teknik Otomotif dengan Kompetensi Keahlian Teknik Kenderaan Ringan, Outboat Motor/Motor Tempel, Teknik Pengelasan.[]

(Editor | Redaksi)

Komentar

News Feed