full screen background image

Telkomsel Kembali Gelar Digital Creative Indonesia Competition

Share Button
Digital Creative Indonesia Competition

Digital Creative Indonesia Competition (DCIC) melalui kompetisi bagi para pengembang aplikasi seluler muda bernama The NextDev, yang digelar Telkomsel, Selasa, 16 Agustus 2016, di aula Labschool Unsyiah, Darussalam, Kota Banda Aceh. FOTO | Ist

Banda Aceh–Setelah sukses pada penyelenggaraan pertama tahun 2015, Telkomsel kembali menggelar Digital Creative Indonesia Competition (DCIC) melalui kompetisi bagi para pengembang aplikasi seluler muda bernama The NextDev. Mengusung tema Karya Anak Bangsa untuk Solusi Indonesia, The NextDev 2016 menantang kawula muda untuk menciptakan aplikasi seluler yang memberikan dampak sosial yang positif, terutama dalam hal pengembangan Kota Pintar (Smart City) dan daerah pedesaan.

Kegiatan itu berlangsung Selasa, 16 Agustus 2016, di aula Labschool Unsyiah, Darussalam, Kota Banda Aceh. Kegiatan ini diikuti ratusan siswa, mahasiswa, dan berbagai komunitas dan menghadirkan Walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE, selaku pembicara Roadshow Sosialisasi The Nextdev 2016 Digital Creative Indonesia Competition.

Tahun ini The NextDev kembali hadir dengan konsep yang lebih menantang. The NextDev 2016 tetap berfokus pada pengembangan Smart City, tetapi dengan ruang lingkup yang lebih luas, yaitu kategori pengembangan aplikasi untuk rural atau pedesaan. “Kami sangat mendukung dan mengapresiasi acara ini karena sejalan dengan cita-cita Kota Banda Aceh yang ingin menjadikan kota ini sebagai Cyber City,” ujar Illiza.

Kata dia, Kota Banda Aceh mempunyai komitmen dan keyakinan akan pentingnya penerapan teknologi informasi (TI) sebagai faktor penting dalam peningkatan kualitas layanan publik bagi masyarakat kota telah dimulai dari 2007, sejak saat itu cita-cita untuk menjadikan Banda Aceh sebagai cyber city dengan giat diupayakan mulai dengan penyusunan cyber city masterplan, pembentukan tim cyber kota Banda Aceh, hingga penyediaan lingkungan ramah IT di setiap Satuan Kerja Perangkat Kota (SKPK) yang kemudian mendorong perwujudan e-government di Kota Banda Aceh.

“Smart city kemudian menjadi bagian tidak terpisahkan dari target pencapaian dan pembangunan di Kota Banda Aceh. Konsep smart government, smart economy, smart education, smart health dan smart information, kemudian menjadi turunan konsep pembangunan kota cerdas yang ingin diterapkan Banda Aceh untuk mencapai suatu pembangunan yang berkelanjutan,” ungkap Illiza.

Hasilnya, lanjut dia, hingga tahun 2016 ini Banda Aceh berhasil mengembangkan 74 aplikasi berbasis e-governmentdan kita menargetkan 23 aplikasi lainnya akan selesai dikembangkan pada tahun 2017 yang akan datang, belum lagi berbagai kerjasama di bidang TIK dengan berbagai instansi seperti Markplus dan Telkomsel, maupun lembaga pengembang TIK lainnya seperti BPPT, Detiknas, Open Data Labs, dan berbagai komunitas lainnya telah menghasilkan berbagai program berbasis TIK.

“Di bidang SMART Government misalnya, Banda Aceh dikenal dengan system E-Kinerjanya. Yang terbukti dapat mengukur tingkat performa setiap aparatur berbasis output. Aplikasi ini telah diadopsi oleh banyak instansi maupun kabupaten kota lainnya dan menjadi model bagi pengukuran kinerja pegawai,” imbuhnya.

Diharapkan dia, keterlibatan setiap anggota masyarakat khususnya para anggota komunitas maupun pengembang muda di bidang TIK. Hal ini sebagai sarana penyelesaian permasalahan maupun isu-isu perkotaan menjadi tanggungjawab seluruh lapisan masyarakat kota.

“Anak-anak muda silahkan berkontribusi dengan hal-hal positif di kota Banda Aceh ini seperti membuat aplikasi-aplikasi digital. Saat ini kita terus membangun fasilitas-fasilitas untuk ruang kreatifitas anak muda untuk melahirkan ide-ide kreatif. Kota yang smart ditandai dengan masyarakat yang smart,” tutup Illiza.

Reporter | Adi Doles

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM