full screen background image

Uniknya Tradisi Chengbeng, Beda dengan Imlek

Share Button
Kelenteng Kong Fuk Miau di Muntok, Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Foto | I MADE ASDHIANA//Kompas.com

Kelenteng Kong Fuk Miau di Muntok, Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Foto | I MADE ASDHIANA//Kompas.com

PANGKALPINANG – Chengbeng dan Imlek merupakan sama-sama tradisi yang dirayakan etnis Tionghoa. Baik Chengbeng maupun Imlek, juga sama-sama dirayakan setiap tahun sekali. Namun, daya tarik Chengbeng jelas berbeda bila dibandingkan Imlek.

“Chengbeng adalah tradisi religius, sementara Imlek tidak. Dalam kepercayaan masyarakat China sejak zaman dahulu, sudah ada tradisi untuk menghormati arwah leluhur. Salah satunya dengan sembahyang di makam leluhur seperti proses Chengbeng yang bisa kita saksikan saat ini,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Akhmad Elvian, kepadaKompas.com, Senin (4/4/2016).

Melalui Chengbeng, ikatan emosional dalam keluarga lebih cepat terbangun. Karena memang Chengbeng khusus untuk “berkomunikasi kembali” dengan arwah para leluhur.

Dengan adanya tradisi Chengbeng ini pula, etnis Tionghoa sangat menjaga keberadaan makam keluarga. Menurut Akhmad Elvian, di Kota Pangkalpinang, banyak terdapat makam yang sudah berumur ratusan tahun.

Makam-makam tersebut sebagian sudah ada yang masuk cagar budaya dan beberapa makam lainnya dirawat secara pribadi turun-temurun. Sementara Imlek, kata Akhmad Elvian, hanya sebatas perayaan pergantian tahun yang bisa dimaknai juga sebagai pergantian musim.

Etnis Tionghoa pada setiap tahun baru Imlek berharap adanya kehidupan yang lebih baik dibanding waktu sebelumnya.

“Yang satu ibadah sembahyang leluhur yang satunya lagi perayaan pergantian kalender sama dengan tahun baru masehi, acara perayaan hanya untuk menandai pergantian tanggal saja,” papar Akhmad Elvian yang mengaku sedang melakukan penelitian jejak-jejak etnis Tionghoa di Pulau Bangka.

SUMBER | KOMPAS.COM

Facebook Comments