full screen background image

U’UI Peringkat II Terbaik di Aceh Pubkikasi Internasional Indexing Scopus

Share Button
Marniati

Rektor Universitas U’budiyah Indonesia, Prof. Adjunt, Marniati SE, M.Kes. FOTO | FACEBOOK.COM 

Banda Aceh-Universitas U’budiyah Indonesia berhasil menduduki peringkat II (dua) terbaik di propinsi Aceh setelah Universitas Syiah Kuala menduduki peringkat pertama dalam publikasi jurnal internasional yang terindeks Scopus dengan jumlah 21 publikasi selama dua tahun dan peringkat nasional, U’UI menduduki posisi 128 terbaik dari 4.500 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia serta telah mengungguli beberapa Universitas di Pulau Jawa yaitu Universitas Teknologi Yogjakarta dan Universitas Krida Wacana serta Universitas Pembangunan Nasional Yogjakarta.

Publikasi internasional indexing scopus secara nasional di duduki peringkat teratas oleh ITB dengan jumlah publikasi 6048, kedua UI jumlah publikasi 4810, ketiga UGM jumlah publikasi 3616 ,keempat adalah IPB jumlah publikasi 2288, Kelima ITS jumlah publikasi 1775 dan peringkat keenam terbaik Indonesia diduduki oleh LIPI dengan publikasi 1762.

“Salah satu publikasi internasional paling dikenal oleh para peneliti dunia adalah Scopus yang dimiliki oleh Elsevier, salah satu penerbit utama dunia. Scopus merupakan sebuah pusat data terbesar di dunia mencakup puluhan juta literatur ilmiah, dan telah terbit sejak puluhan tahun lalu hingga saat ini,” ujar Rektor U’UI, Prof. Adjunt, Marniati SE, M.Kes, Selasa, 9 Agustus 2016, di Banda Aceh.

Di samping itu, kata dia, scopus juga memberikan data agregat untuk menunjukkan tingkat pengaruh suatu jurnal (journal impact) atau institusi (institutional impact) dalam dunia publikasi ilmiah berdasarkan hubungan sitasi dari dan ke artikel-artikel yang diterbitkan oleh sebuah jurnal atau dipublikasikan oleh peneliti-peneliti dari suatu institusi. Maka, pengguna Scopus dengan mudah mendapatkan informasi mengenai apa yang sudah dipublikasikan oleh penerbit-penerbit atau lembaga-lembaga riset dari seluruh dunia.

“Untuk mendapatkan kelulusan indexing scopus bukan hal yang mudah bagi para peneliti membutuhkan waktu 4-6 bulan, dan beberapa hal utama yang perlu di perhatikan pada kualitas riset yang berimpact tinggi dan referensi yang digunakan dari jurnal Indexing Internasional, serta tata penulisan Bahasa Inggris yang benar, kekeliruan dalam beberapa hal ini sering mengagalkan publikasi pada jurnal indexing dunia,” kata Marniati.

Informasi diperoleh pihaknya dari portal scimago disebutkan dalam pemeringkatan hasil publikasi internasional dari 239 negara di dunia, Indonesia masih menduduki peringkat 61 dengan jumlah publikasi 25.481 pada tahun 2015, masih jauh dari Negara tetangga Malaysia yang berada pada peringkat ke – 37 dengan jumlah publikasi karya ilmiah 125.084, dan Singapura berada diperingkat ke -32 serta Thailand berada di peringkat ke- 43.

“Karena Kementerian Riset dan Teknologi melalui surat edarannya menghimbau semua perguruan tinggi di Indonesia untuk fokus pada penelitian dan publikasi Internasional, yang merupakan salah satu bagian dari Tridarma perguruan Tinggi selain dari pada pengajaran dan Penelitian, sehingga dapat meningkatkan peringkat Indonesia dalam publikasi Internasional dimata dunia,” sebutnya.

Dikatakan dia lagi, dalam mendukung jumlah publikasi internasional, Kemenristek telah menerbitkan surat edaran kewajiban publikasi Internasional bagi calon lulusan doktoral di jurnal Internasional yang berindexing, salah satu nya scopus, sehingga diharapkan kedepan peringkat Indonesia dalam publikasi Internasional dapat meningkat dari Negara Asean lainya, sebab Publikasi Internasional juga berperan meningkatkan harga diri suatu negara dalam bentuk diplomasi mutu pendidikan dan ilmu pengetahuan, karena negara yang memiliki mutu pendidikan yang bagus cenderung memiliki publikasi Internasional yang tinggi.

“Publikasi internasional sudah semestinya menjadi perhatian semua peneliti dan perguruan tinggi yag ada di Indonesia untuk mendapatkan rangking terbaik Indonesia dimata dunia, dibandingkan pemeringkatan lain seperti webomeric dan pemeringkatan lainya yang tidak berdampak pada mutu dan kualitas pendidikan serta tidak menjadi acuan Kementerian Riset dan Teknologi,” tutup Marniati.

Reporter | Hidayat

Facebook Comments


Situs Berita Online Terpercaya | PENAPOST.COM