oleh

Yuk, Investasi di Pasar Modal Syariah

Investor jangan investasi dengan uang hasil berutang dan uang yang akan dipakai.

Jakarta-Pasar Modal Syariah dari Otoritas Jasa Keuangan mengadakan acara Bincang Santai Investasi Syariah di Komplek Kementerian Keuangan, Jakarta Sabtu (10/3). Pembicara bincang-bincang tersebut diantaranya dari OJK diwakili oleh Direktorat Pasar Modal Syariah Nadhifa Alim Hapsari, Equity Analyst PT Philip Sekuritas Indonesia Mohamad Adityo Nugroho, dan Head of Invesment PT Avrist Asset Management Tubagus Faras.

Nadhifa memaparkan mengenai bagaimana pasar modal syariah. Seperti hubungan timbal balik dari perusahaan dan investor, dasar, komponen, keuntungan investasi dan produk saham pasar modal syariah. “Produk saham sebenarnya ada di sekitar kita, pertanyaannya apa kita hanya menggunakannya atau memilikinya juga,” paparnya.

Di sisi lain, Nadhifa menjelaskan saham dikatakan syariah bisa dibedakan menjadi dua, yakni saham yang diterbitkan oleh emitan aktif dan saham yang diterbitkan oleh emitan pasif. “Maksudnya bukan secara aktif diterbitkan, tapi emiten tersebut memang menggunakan anggaran dasar menyebutkan bahwa dia merupakan perusahaan syariah. Emiten pasif adalah emiten-emiten di luar emiten aktif masuk listing perusahaan yang perlu kita telaah untuk kita lihat kriteria masuk dalam emiten syariah,” lanjutnya.

OJK menelaah perusahaan yang dapat dikatakan sebagai saham syariah dan dikeluarkan tiap dua tahun sekali atau secara mendadak jika terjadi sesuatu. Di sisi lain, sebagai perwakilan manajemen investasi yang terlisensi oleh OJK, Faras memaparkan mengenai laporan saham syariah Indonesia. .

Dia menjelaskan bagaimana investor yang memiliki dana dan secara bersama-sama dikelola oleh manajemen investasi. “Dana yang kita terima dari investor kita investasikan di instrumen pasar modal yang sudah syariah. Setiap bulan investor diberikan laporan sehingga reksa dana pun sangat terjamin,” lanjutnya.

Faras memaparkan mengenai karakteristik reksa dana yang terbagi menjadi lima bagian. Yakni reksa dana pure saham, reksa dana syariah, reksa dana syariah campuran, reksa dana pasar uang, dan reksa dana proteksi. “Reksa dana saat ini masih memiliki pajak yang rendah dibanding saham,” lanjutnya.

Dalam pemaparannya, Faras menjelaskan investor harus paham reksa dana apa yang diambil oleh investor. “Kita juga harus lihat reksa dana jenisnya seperti apa, ada dua yakni reksa dana terbuka atau tertutup, dan harus kita pahami perbedaan keduanya,” jelasnya.

Reksa dana tertutup merupakan reksa dana yang hanya dirilis sekali di awal kemudian tidak ditawarkan lagi. Sementara reksa dana terbuka adalah reksa dana yang ditawarkan setiap saat untuk diinvestasi oleh investor. Selain itu, dalam reksa dana terbuka dapat diambil kapan saja oleh investor.

Dari sisi risiko, Faras membagikan investasi menjadi tiga bagian yakni risiko rendah, menengah dan tinggi. “Hal tersebut dilihat dari likuiditas saham dan dari sisi fluktuasi nilainya. Manajemen investasi juga akan memberikan rekomendasi investasi apa yang cocok,” jelasnya.

Sementara itu, Adit memberikan tips memilih saham yang bagus bagi para investor. “Untuk pelaku pasar ada dua cara, yaitu fundamental analysist dan technical analysist. Kita gunakan cara fundamental untuk cara pilih saham dan pilih technical untuk timing masuk ke perusahaan tersebut,” paparnya.

Secara garis besar, investor menggunakan fundemental untuk melihat karakteristik perusahaan tersebut. “Kita melihat apakah harga pasar sekarang berada di atas atau dibawah harga wajarnya,” jelasnya.

Adit memberikan saran untuk membaca koran mengenai ekonomi sebagai pemahaman pasar yang ada di Indonesia. “Ketika melihat rupiahnya bagus, ekonomi Indonesia bagus, maka itu dapat menjadikan referensi kita dalam memberikan investasi,” lanjutnya.

Secara garis besar, Adit memaparkan bahwa konstruksi dapat menjadi investasi yang bagus. Karena kini perkembangan infrastruktur di Indonesia sedang naik. Namun dia mengingatkan bahwa laporan dari perusahaan perlu dipelajari.

“Perusahaan harus dilihat rekam jejaknya, apa pernah terkena fraud apa manajemennya bagus dan apa itu perusahaan yang sembrono atau banyak uang dan laporan keuangan yang jelas memaparkan untung ruginya,” jelasnya.

Dalam technical analysist, Adit memaparkan bahwa investor harus melihat tren yang ada. “Kalau sahamnya naik, ya ikutin aja, kalau sahamnya turun, ya tunggu dulu aja, ga usah beli dulu,” sarannya.

Adit mengingatkan bahwa investor jangan melakukan investasi dengan uang dari hasil berutang dan uang yang akan dipakai. “Misalnya seperti ibu rumah tangga investasi dari uang sekolah anaknya, ketika butuh saham turun maka akan rugi. Itulah kenapa saham syariah tidak bisa margin,” jelasnya.[]

Sumber | REPUBLIKA.CO.ID 

Komentar

News Feed