oleh

9 KK Terkurung Banjir

LHOKSEUMAWE-Banjir melanda sejumlah desa dalam dua kecamatan di Aceh Utara, yakni Matangkuli dan Bandar Baro, Rabu (25/11). Akibatnya, sembilan kepala keluarga (KK) atau sebanyak 38 jiwa di Dusun Gisa, Desa Paya Dua, Kecamatan Banda Baro, Aceh Utara, terkurung banjir. Untuk menuju pusat desa, mereka harus menggunakan rakit.

Keuchik Paya Dua, Tarmizi AR mengatakan, banjir di desanya terjadi akibat hujan lebat sejak Selasa malam hingga Rabu pagi. Selain mengurung sembilan KK, banjir juga merendam sejumlah badan jalan dengan ketinggian 1 sampai 1,5 meter, 140 hektare sawah siap panen, dan dua unit rumah warga. Hingga kemarin, belum ada warga yang mengungsi.

Camat Bandar Baro Fadly, menyebutkan, selain Paya Dua, banjir juga merencam sejumlah desa diantaranya, Ulee Nye, Cot Jaben, Sangkelan, Paya Bunyet, Paya Ulee dan Blang Pala. “Banjir merendam ratusan hektare sawah warga dan sejumlah rumah. Selain itu, Talud di waduk Teupin Keube juga ambruk,” katanya.

Sementara di Kecamatan Matangkuli, banjir dilaporkan melanda empat desa, yakni Hagu, Alue Tho, Meunasah Lawang dan Tumpok Barat. “Keempat desa di wilayah kami memang sudah langganan banjir. Kalau hujan lebat di daerah pegunungan, air di Krueng (sungai) Keuruto meluap ke perkampungan,” ujar Keuchik Hagu, M Nasir.

Ketinggian air di desanya, kata M Nasir, bervariasi. Di kawasan rendah air mencapai ketinggian 60 cm, sedangkan di badan jalan hanya sekitar 10 cm. “Rumah warga ada beberapa yang terendam, tapi belum ada yang mengungsi,” ujarnya.

Sementara di Bireuen, hujan lebat yang mengguyur kawasan itu sejak Selasa (24/11) malam hingga Rabu (25/11) dinihari, mengakibatkan sejumlah desa di tujuh kecamatan diterjang banjir. Selain merendam rumah penduduk, sejumlah sekolah diliburkan, sawah dan tambah warga juga rusak.

Akibat banjir, perabotan rumah tangga dan barang elektronik warga rusak. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, Asmara Hadi mengatakan, pihaknya hingga kemarin terus mendata dessa-desa dan warga yang menjadi korban banjir. “Untuk mencegah banjir susulan, kami akan berkoordinasi dengan dinas terkait,” katanya.

Sejumlah sekolah di Bireuen sempat tergenang banjir, Rabu (25/11) dinihari sampai pukul 11.30 WIB. Para pelajar yang siswanya terendam banjir tidak bisa belajar. Kemarin, mereka bergotong royong membersihkan ruang belajar dan memindahkan buku-buku di pustaka.

Kadis P dan K Bireuen, Drs Nasrul Yuliansyah MPd mengatakan, laporan sementara ada tujuh sekolah yang tergenang dengan ketinggian air mencapai 60 cm sampai 1 meter lebih. Walau pun perlahan air menyusut, aktivitas belajar mengajar tidak dapat berlangsung. Kemungkinan kegiatan belajar akan normal hari ini.

“Banyak mobiler sekolah rusak, buku di perpustakaan terendam, komputer di laboratorium sekolah juga rusak,” ujarnya. Rincian kerusakan mobiler maupun komputer dan sarana lainnya, sedang didata sekolah masing-masing. Aangka kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah karena yang paling banyak rusak adalah komputer dan bahan di laboratorium.

SUMBER | TRIBUNNEWS.COM

Komentar

News Feed