oleh

Angka Pengangguran Lulusan SMK, Naik atau Turun?

Jakarta-Angka partisipasi kerja lulusan SMK meningkat setiap tahun seiring meningkatnya angka partisipasi kerja dan menurunnya angka tingkat pengangguran terbuka (TPT).

Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik ( BPS) tahun 2016 hingga 2018.

Data Sakernas BPS tersebut memperhitungkan lulusan SMK yang belum mendapat intervensi kebijakan Revitalisasi SMK. Karenanya, Mendikbud optimis terhadap program Revitalisasi SMK yang dimulai tahun 2017.

“Saya optimis Indonesia dengan Revitalisasi SMK sudah berada di jalan yang benar. Hanya saja kita harus bekerja lebih keras lagi,” tegasnya saat acara Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) di Kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Optimisme program revitalisasi
Dikutip dari laman resmi Kemendikbud, berdasarkan Sakernas BPS tahun 2014-2018, pada Agustus 2015 terdapat 10,8 juta lulusan SMK terserap di dunia kerja, dan terus meningkat menjadi 12,1 juta (Agustus 2016); 12,5 juta (Agustus 2017); dan 13,6 juta (Agustus 2018).

Sementara itu, angka pengangguran dari lulusan SMK terus menurun, yakni 9,84 persen (2016); 9,27 persen (2017); dan 8,92 persen (2018). Artinya, setiap tahun rasio antara keterserapan lulusan SMK ke industri dengan angkatan kerja nasional selalu menunjukkan data positif.

Mendikbud meyakini Program Revitalisasi SMK yang sudah berjalan akan semakin meningkatkan angka partisipasi kerja lulusan SMK. Kemendikbud telah menjalankan beberapa kebijakan untuk mengimplementasikan Revitalisasi SMK antara lain;

(1) membuat peta jalan pengembangan SMK, (2) pengembangan dan penyelarasan kurikulum, (3) kerja sama sekolah dengan dunia usaha, industri, serta perguruan tinggi dan (4) inovasi pemenuhan dan peningkatan profesionalitas guru dan tenaga kependidikan.

3 jenis guru SMK Ia menjelaskan, ada 3 jenis guru yang mengajar di SMK, yaitu guru adaptif (mengajar mata pelajaran murni, seperti matematika, fisika, kimia), guru normatif (mengajar mata pelajaran agama dan Pancasila), dan guru produktif (mengajar sesuai dengan bidang keahlian). Berdasarkan data, jumlah guru produktif hanya sebesar 37 persen dari total kebutuhan 91.000 guru. Melalui Program Keahlian Ganda, guru adaptif diberikan pelatihan dan melakukan praktik kerja industri.

“Guru adaptif kita sekolahkan lagi ke perusahaan-perusahaan yang sesuai dengan bidang keahliannya. Hasilnya positif. Kita sedang genjot untuk guru keahlian ganda. Itu langkah kami untuk mengatasi kekurangan guru produktif di SMK,” tutur Mendikbud.

Menurutnya, salah satu yang harus diantisipasi saat ini adalah perkembangan pembangunan infrastruktur yang harus seiring juga dengan jumlah lulusan SMK, sehingga ada kecocokan antara bidang keahlian dengan pekerjaan yang digeluti, sekaligus menambah nilai investasi SDM maupun ekonomi.[]

(Sumber | KOMPAS.COM)

Komentar

News Feed