oleh

Bocah Yatim Itu Mengagumi Sosok Aminullah-Zainal

UDARA dingin edisi Jum’at, 6 Januari 2017 di pusat Kota Banda Aceh, begitu terasa hingga menusuk ke tulang-tulang. Maklum, belakangan pusat Ibukota Provinsi Aceh berusia 811 tahun dilanda angin disertai hujan yang mengguyur.

Saat itu, bocah yatim asal Kota Langsa yang kini sudah berdomisili di Kota Banda Aceh menghampiri media ini. Sebut saja namanya, Bunga dan Melati, usianya masih belasan tahun. Keduanya mengaku berstatus pelajar di sebuah sekolah jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Banda Aceh.

Hari-hari kedua bocah itu menyambung hidup dengan berharap belas kasih mansyarakat dari warung ke warung. Ya, selama ini warga menjadikan warung kopi di Kota Banda Aceh khususnya telah menjadi sebaga tempat persinggahan untuk mencicipi menu sajian dari warung kopi tersebut.

Dari meja ke meja bocah itu menyodorkan amplop mail kepada setiap pengunjung warung. Ada yang memberi, tak jarang pula yang menolak dengan isyarat ucapan maaf. Diusianya yang masih belia, tidak seharusnya mereka ‘bergerilya’ mencari rezeki, namun bocah itu harus melakukannya.

Waktu yang tersisa ketika pulang sekolah seyogyanya dipergunakan untuk beristirahat, belajar dan mengaji, harus dimanfaatkan untuk menggais rezeki demi menyambung hidupnya. Siapa yang tidak mempunyai cita-cita untuk hidup suksses, tapi lagi-lagi mereka seakan tidak ada pilihan lain selain ‘bergerilya’.

Kepada media ini di jantung kota Banda Aceh, mereka juga mengaku uang yang diperoleh setiap harinya itu untuk menyambung hidup. Tak pernah berputus asa, meski penghasilannya pas-pasan. “Ayah sudah meninggal saat peristiwa Tsunami tahun 2004 lalu, jadi harus mencari uang sendiri,” ujar Bunga.

Begitu juga dengan Melati, ia begitu rindu dengan kehidupan layaknya anak-anak lain. Namun, tidak ada pilihan lain selain harus bergerilya bersama rekannya, menggais rezeki dari warung ke warung di Kota Banda Aceh ini.

Kedua bocah itu terus membuka pembicaraan dengan media ini. Bola mata melirik kekiri dan ke kanan, tiba-tiba satu dari mereka menunjuk sebuah spanduk yang ukurannya tidak begitu besar dan idak begitu jauh dari lokasi perbincangan media ini dengan bocah tersebut.

“Itu pak Aminullah sama pak Zainal calon walikota dan wakil walikota Banda Aceh,” ucap Bunga menunjuk ke arah spanduk pasangan calon Aminullah-Zainal.

Melihat arah telunjuk bocah itu tadi, media ini mengikuti pandangan ke arah telunjuk bocah tersebut. “Memangnya kenal dengan pak Aminullah dan pak Zainal? tanya media ini.

“Pak Aminullah dan pak Zainal sangat baik orangnya, saya kagum sama beliau. Keduanya tidak ada sifat sombong meskipun kita hidup susah. Setiap kita bertemu dan bersalaman selalu disambut dan diberi nasehat untuk tetap bersekolah serta patuh kepada kedua orang tua,” imbuhnya.

Bocah itu juga bercerita panjang lebar ketika hari-hari besar tiba semisal hari raya maupun di hari megang. Dirinya mengaku sering diundang ke rumah Aminullah, melalui perangkat gampong tempat ia berdomisili.

“Ketika lebaran maupun megang, kami sering dibawa oleh teungku-teungku ke rumah pak Aminullah. Beliau sungguh prihatin kepada anak-anak yatim, hal ini seperti yang saya rasakan bersama teman-teman lainnya,” tuturnya menceritakan.

(Editor | Rizal JP)

Komentar

News Feed