oleh

Ciptakan Komitmen Bersama Kemenag-Disdik untuk Kemajuan Pendidikan Aceh

Banda Aceh-Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh menggelar Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) di Aceh, Kamis, 15 November 2018, di Banda Aceh. Kegiatan yang berlangsung di Skala Coffee, Pango bersama pemerhati pendidikan dan jurnalis ini merupakan salah satu dari 11 program Direktif Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin yang disampaikan pada Rakernas Kemenag Republik Indonesia tahun 2018.

“Kementerian Agama mempunyai 11 poin program direktif yang dilakukan tahun 2018, seperti ngobrol pendidikan Islam yang dilaksanakan di Aceh ini,” kata Kakanwil Kemenag Aceh, Daud Pakeh, sebelum memaparkan konsep membangun pendidikan Aceh.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Kakanwil Kemenag Aceh, Daud Pakeh, Komisi V DPR Aceh, Mohd Alfatah dan Kadis Pendidikan Aceh, Syaridin sebagai narasumber. Serta dihadiri Ketua Badan Akreditasi Provinsi-Sekolah/Madrasah (BAP-S/M) Aceh, IGRA Aceh, PGRI, media Pers, pimpinan pondok pesantren, Kepala Madrasah dan pejabat eselon III dan IV di Kanwil Kemenag Aceh.

Pada kesempatan tersebut, masing-masing pimpinan lembaga membicarakan tentang perkembangan pendidikan di Aceh, tantangan, solusi dan harapan baik itu di madrasah, sekolah dan Dayah.

Daud Pakeh mengatakan bahwa Kemenag dalam hal ini Kanwil Kemenag Aceh siap bersinerji membantu, mendukung dan bersama-sama memajukan pendidikan Aceh, baik itu Madrasah maupun sekolah, karena fokus dari tujuan pendidikan adalah mendidik anak bangsa.

“Kemenag siap mensupport dan mendukung pelaksanaan pendidikan agama di sekolah, kerjasama ini telah terjalin dengan baik, seperti bersama-sama menyukseskan program Kemenag maupun pemerintah Aceh, seperti pentas PAI Nasional, Porseni dan sejumlah agenda lainnya,” ujar Daud Pakeh.

“Karenanya, baik kementerian atau pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap terselenggaranya pendidikan anak negeri yang lebih baik, sehingga hari ini Kemenag Aceh dan beberapa instansi Pemerintah Aceh termasuk Dinas Pendidikan selalu berkolaborasi untuk kemajuan aceh yang bermartabat dan aceh hebat. Fokus pendidikan kita adalah anak-anak bangsa,” sebutnya.

Komisi V DPR Aceh, Mohd Alfatah mengapresiasi sistem dan pelaksanaan pendidikan yang ada di Kementerian Agama, baik tentang penempatan pendidik maupun kedisiplinan, sehingga hal tersebut patut di contoh oleh Dinas Pendidikan Aceh. “Saya mengapresiasi proses belajar mengajar yang ada di Madrasah, kita melihat hari ini minat Madrasah di Aceh semua membludak, tidak bisa menampung banyak pelamar, hal ini sesuai dengan fakta bukan karena didepan Kakanwil Kemenag Aceh,” ujar Mohd Alfatah.

Begitupun ia juga menyampaikan masih ada kekurangan di Kementerian Agama terkait banyaknya Madrasah swasta sejak puluhan tahun.

Dalam kesempatan tersebut ia mengatakan, solusi untuk Aceh saat ini adalah bersama-sama menjaga dan melaksanakan kurikulum Aceh yang di launching Plt. Gubernur pada malam resepsi Hari Pendidikan Daerah Aceh ke 55, 29 September 2018 lalu.

Dalam kurikulum tersebut pendidikan agama di sekolah dalam Provinsi Aceh disetarakan dengan madrasah, mulai tahun 2019 nanti tidak ada lagi pendidikan agama dua jam dalam seminggu, namun semua jenjang pendidikan sekolah di Aceh akan mengikuti dan menyesuaikan diri dengan Madrasah (quran hadist, aqidah akhlaq, fiqih, sejarah islam dan bahasa arab).

“Pelaksanan dan pembinaan ini tentunya akan menjadi tanggung jawab Kemenag sesuai dengan PP nomor 55 tahun 2007. Disinilah Kemenag dan Dinas pendidikan Aceh harus terus meningkatkan sinergitas, sehingga keseimbangan antara pendidikan umum dan agama akan dapat di capai baik di sekolah maupun madrasah,” lanjut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Menurutnya, harus diakui Kementerian Agama memiliki peran penting membantu Dinas Pendidikan Aceh untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat Aceh untuk membangun pendidikan yang Islami.

Kadis Pendidikan Aceh, Syaridin, mengatakan hal yang sama tentang komitmen bersama untuk bersinerji membangun pendidikan Aceh, sehingga tidak perbedaan antara pendidikan Madrasah maupun di sekolah. “Kami sepakat dengan Kakanwil Kemenag Aceh untuk fokus membangun pendidikan Aceh, tidak membedakan sekolah dan madrasah karena semua anak anak didik tersebut adalah generasi Aceh,” ujar Syaridin.

Ngopi yang dihiasi dengan dialog santai bersama para peserta itu melahirkan sejumlah komitmen bersama untuk memajukan pendidikan di Aceh.[]

(Editor | Redaksi)

Komentar

News Feed