oleh

Ini Kata Ditjen Dikdasmen Soal Kurikulum Aceh

Jakarta-Dinas Pendidikan Aceh mengutuskan tim untuk melakukan sosialisasi Kurikulum Aceh ke Jakarta, Jum’at, 23 November 2018, kemarin, di gedung Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah di Gedung E Lt 14 Kemendikbud Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Tim sosialisasi Kurikulum Aceh di pimpin Saifuddin AR dan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama bertugas di Kemendikbud, dengan agenda bertemu Dirjen Dikdasmen dan tim kedua bertugas di Kementerian Agama Republik Indonesia. Kedatangan tim dari Dinas Pendidikan Aceh diterima Kasubbag Humas Ditjen Dikdasmen, Waadarrahman.

Ditjen Dikdasmen, Prof Dr Jufri menjelaskan kepada pejabat Kemdikbud bahwa Aceh telah menyusun kurikulum sendiri yang disebut Kurikulum Aceh.

Ia mengatakan, bahwa penyusunan kurikulum itu dilatarbelakangi semangat implementasi syariat Islam di Aceh. “Undang-undang otonomi khusus memberi ruang bagi Aceh untuk mengembangkan kurikulum sendiri,” katanya.

Dengan kekhususan yang dimiliki tersebut, kata Jufri, seharusnya Aceh telah mencapai kemajuan dalam soal penguasaan pendidikan agama. Akan tetapi, faktanya sampai sejauh ini, forsi pendidikan agama yang didapat anak-anak Aceh di sekolah tidak berbeda dengan apa yang diperoleh siswa daerah lain.

“Semangat itulah yang kemudian mendorong lahirnya kurikulum lokal dengan salah satu titik fokus penambahan jam pelajaran agama,” tuturnya.

Kasubbag Humas Dikdasmen, Waadarrahman, yang mewakili Sekretaris Ditjen Dikdasmen menyatakan menyambut baik kehadiran kurikulum Aceh.

Ia menyampaikan seyogiyanya kehadiran tim sosialiasasi kurikulum Aceh diinformasikan jauh-jauh hari sehingga pihaknya bisa melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga terkait guna membahas permasalahan kurikulum tersebut.

Namun demikian, Wardah, berjanji akan menyampaikan hasil pertemuan itu kepada Dirjen Dikdasmen Prof Dr Hamid Mohammad yang pada saat yang sama sedang menghadiri pertemuan lain.

Menurut Wardah, apa yang telah dilakukan Aceh menyusun kurikulum sendiri merupakan sebuah terobosan bagus. “Kalau penerpan kurikulum lokal ini berhasil di Aceh, bisa dikembangkan oleh daerah lain,” katanya.[]

(Editor | Redaksi)

 

Komentar

News Feed