oleh

Inovasi Satpol PP Peduli Pendidikan, Atasi Siswa Bermasalah Tanpa Kekerasan

Solo-Banyak cara dilakukan untuk mengatasi pelajar atau siswa bermasalah di sekolah. Salah satunya seperti yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP) Kota Surakarta, yaitu dengan membuat inovasi “Satpol PP Peduli Pendidikan”. Sering kali, cara kekerasan menjadi jalan terakhir untuk mengatasi siswa bermasalah di sekolah.

Padahal, cara kekerasan ini tidak menyelesaikan masalah justru sebaliknya menumbuhkan kebencian terhadap siswa. Satpol PP Peduli Pendidikan merupakan salah satu upaya mengatasi siswa bermasalah tanpa kekerasan. Siswa bermasalah diberikan pembinaan dan penyuluhan.

Siswa juga dipantau untuk diketahui perkembangan mentalnya. Kepala Satpol PP Kota Surakarta Sutardjo mengaku prihatin dengan banyaknya siswa yang membolos dan tidak mengikuti pelajaran di sekolah. Menurutnya, tidak kurang dari 20 orang siswa terjaring dalam operasi yang dilakukan.

“Siswa yang membolos ini cukup banyak. Karena setiap kami lakukan operasi ada 15-20 orang siswa yang kami amankan,” kata Sutardjo dalam acara pembinaan penyuluhan siswa pelajar Kota Surakarta di Solo, Jawa Tengah, Rabu (14/11/2018).

Mereka yang terjaring dalam operasi dibawa ke kantor Satpol PP. Di tempat itu, mereka diberikan pembinaan dan penyuluhan agar tidak mengulangi perbuatannya dengan membolos sekolah. “Saya tidak hanya sekali operasinya. Dan data-datanya sebenarnya saya sudah diberi dari sekolah-sekolah. Saya sedikit terkejut ternyata banyak siswa yang membolos,” ungkapnya.

“Namun, setelah kami tangani selama tiga kali kemarin dan kami monitoring siswa yang suka membolos sudah aktif disiplin masuk sekolah. Mereka tidak bolos lagi,” ungkap Sutardjo.

Dirinya berharap, inovasi yang diciptakannya tersebut, yakni Satpol PP Peduli Pendidikan nantinya dapat dicontoh oleh daerah lain di wilayah Solo Raya dan daerah lain di Indonesia dalam menangani siswa bermasalah. “Jadi, menangani siswa bermasalah itu jangan sampai menggunakan fisik seperti rambutnya digunduli, jangan disuruh membersihkan lantai, dan lainnya.

Pakai cara yang baik, diberi pembinaan dan penyuluhan,” bebernya. Untuk mendukung program tersebut, Satpol PP bekerja sama dengan pihak sekolah dan Balai Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Kota Surakarta. Selain itu, pihaknya melalukan pendataan terhadap siswa bermasalah yang ada di sekolah di Solo. Mereka diberikan pembinaan dan penyuluhan.
“Setelah kami berikan motivasi (pembingan dan penyuluhan) selang sepekan kami datangi ke sekolah mereka masing-masing bagaimana perkembangannya. Apakah lebih baik atau masih sama saja. Kalau yang belum berubah kami undang lagi bersama orangtuanya,” kata Sutardjo.

Lebih jauh, Sutardjo mengungkapkan, siswa bermasalah di sekolah belum tentu datang dari dalam diri siswa. Tetapi, bisa datang karena disebabkan oleh faktor lingkungan maupun keluarga. “Satpol PP Peduli Pendidikan saya ikutkan dalam kompetisi inovasi tingkat Provinsi Jawa Tengah. Setelah itu nanti harapannya bisa jadi percontohan nasional,” beber dia.

Anggota Dewan Pendidikan Kota Surakarta Soleh Amini mengapresiasi inovasi Satpol PP Peduli Pendidikan di Solo. Ia menilai, inovasi ini baru pertama di Indonesia. Dirinya berharap inovasi itu bisa menjadi percontohan (pilot project) nasional dalam mengatasi siswa bermasalah. “Kesan masyarakat Satpol PP hanya mengurusi PKL (pedagang kaki lima) dan hunian liar. Tetapi dengan inovasi ini Satpol PP juga peduli terhadap dunia pendidikan di masyarakat,” kata dia.[]

(Sumber | KOMPAS.COM)

Komentar

News Feed