oleh

Kenang 14 Tahun Tsunami: PWI Aceh Gelar Doa dan Ziarah Kuburan Massal Ulee Lheue

Banda Aceh-Untuk mengenang 14 Tahun Tsunami Aceh (26 Desember 2004-26 Desember 2018), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh menggelar doa besama dan berziarah ke kuburan massal Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa Banda Aceh, Senin, 24 Desember 2018.

Hadir pada ziarah dan doa bersama PWI Aceh, Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, Plt. Ketua PWI Aceh Aldin NL, tokoh pers dan budayawan Aceh H.Harun Keuchik Leumik, mantan Ketua PWI Aceh Adnan Ns, Ketua DKD Dahlan TH, pengurus IKWI PWI Aceh dan sejumlah rekan-rekan pers lainnya.

Tahlil dan doa bersama tersebut ditujukan bagi 103 anggota keluarga besar PWI Aceh yang turut menjadi korban dalam bencana gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004.

Plt Ketua PWI Aceh Aldin NI mengatakan selain doa bersama di kuburan massal Ulee Lheue, pihaknya juga menyerahkan santunan bagi putra-putri korban tsunami dari keluarga besar PWI Aceh.

“Santunan ini diberikan kepada 10 anak yatim piatu yang masih kecil-kecil. Acaranya kita gelar di kantor PWI Aceh yang dirangkai dengan ceramah agama,” kata Aldin.

Menurutnya, saat peristiwa (Tsunami) itu terjadi, wartawan Aceh yang meninggal sedang melaksanakan tugas peliputan sehari-hari.

“Rekan-rekan kita yang meninggal tersebut sedang dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, maupun mereka sedang istirahat,” ujar Aldin.

Ketua DKD PWI Aceh Dahlan TH yang juga isterinya jadi korban tsunami, itu mengatakan, jumlah wartawan yang tergabung dalam PWI Aceh yang korban gempa dan tsunami, itu tercatat ada 28 orang.

“Namun, bila kita hitung keluarga besar PWI Aceh yang menjadi korban gempa dan tsunami pada 26 Desember 2014, ada sejumlah 103 orang,” sebut Dahlan, yang juga Direktur TV Aceh itu.

Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk refleksi untuk mengingatkan semua pihak terhadap bencana maha dahsyat yang pernah terjadi di Aceh.

“Sekaligus kita sampaikan doa kepada 103 syuhada keluarga besar PWI Aceh yang menjadi korban saat itu. Doa kita bersama, semoga semua alrmarhum dan almarhumah mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT,” kata Aminullah.

Kepada rekan-rekan wartawan PWI yang masih ada saat ini, Aminullah mengajak untuk mencontoh dan melanjutkan perjuangan para syuhada dalam mengisi pembangunan kota.

“Kebersamaan dan ukhuwah yang telah terjalin selama ini di antara kita, mari terus kita perkuat dalam memajukan pembangunan Indonesia, Aceh, dan Banda Aceh pada khususnya,” ajaknya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja. Ia mencontohkan seperti baru-baru ini tsunami di kawasan selat Sunda terjadi tanpa ada gempa sebelumnya.

“Itu kebesaran Allah SWT yang ditunjukkan kepada kita. Maka oleh karenanya, mari kita semua tetap waspada sembari terus menambah wawasan dan pengetahuan terkait mitigasi bencana, apalagi negara kita secara umum memang rawan bencana. Dengan bekal yang cukup, insyaallah dampak dari bencana jika sewaktu-waktu terjadi dapat diminimalisir,” katanya.

Ustad Maulana Mahdi al-Hafiz, Pimpinan Dayah Darul Ulum Al-Imdadiyah, Lhutu, Sibreh, Aceh Besar dalam tausiahnya di PWI Aceh menjelaskan, ada tiga amalan yang Allah SWT mengangkat azab atas suatu kampung atau suatu negeri yang seharusnya ditimpakan azab tersebut.

Ketiga amalan tersebut yakni memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah, banyak-banyak membaca al-Qur’an dan selalu beristiqfar kepada Allah swt, katanya.

Kata ustad Mahdi, orang-orang yang selalu menjaga shalat berjamaah maka doa-doa mereka pasti diterima Allah SWT, namun orang-orang yang meninggalkan shalat doa mereka tidak dijabah oleh Allah swt.

“Kalau suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah swt, maka Allah Swt akan membuka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi,” tutur ustad Mahdi mengutip ayat suci Al-Qur’an.

Sebenarnya, ungkap ustad Mahdi, musibah yang terjadi disuatu tempat bukan berarti Allah swt benci kepada kaum tersebut, namun untuk mengangkat harkat atau derajat mereka dihadapan Allah SWT. “Namun, kita juga tidak boleh merasa aman dari musibah tersebut, ujarnya.

Menurut ustad Mahdi, orang-orang yahudi itu mereka tidak takut dengan jumlah umat muslim didunia saat ini atau persenjataan yang lengkap dimiliki oleh umat islam. Namun, mereka takut jika umat islam senantiasa memakmurkan masjid, atau shalat lima waktu ramainya sama dengan shalat jumat.

“Sedangkan selanjutnya yang dapat menolak atau terhindar azab dari Allah SWT yakni banyak membaca Al-Qur’an yang merupakan cara berkomunikasi kita dengan Allah SWT serta orang-orang yang selalu beristiqfar kepada Allah SWT,” tutur ustad Maulana Mahdi Al-HaFiz yang juga lulusan dari Afrika Selatan ini. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

News Feed