oleh

Mau Jadi Petani Milenial? Dikasih Modal Rp 30 Juta

Jakarta-Kementerian Pertanian (Kementan) mengubah Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan). Perubahan berimplikasi pada sejumlah hal substansial, di antaranya yaitu kurikulum.

“Bila dulu kurikulum diisi teori sebanyak 60% dan sisanya praktik, sekarang justru sebaliknya. kurikulum didominasi praktik dan hanya menyisakan 30% teori,” jelas Direktur Polbangtan Gowa Syaifuddin dalam keterangan tertulis, Jumat (17/5/2019).

Dengan perubahan komposisi muatan praktik dan teori, penyusunan kurikulum tidak sepenuhnya diserahkan kepada internal Polbangtan. Pihak swasta dan perguruan tinggi juga ikut dilibatkan.

“Mahasiswa kami dulunya berangan-angan menjadi PNS. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kami dorong mereka menjadi petani milenial, yaitu agropreneur yang bisa menciptakan lapangan kerja di bidang pertanian,” katanya.

Selain menambah bobot praktik pada kurikulumnya, Polbangtan juga berupaya menumbuhkan minat para mahasiswa untuk bertani dengan memberikan bantuan modal.

“Kami siapkan modal sekitar Rp 15-30 juta bagi mahasiswa Polbangtan yang tertarik menjadi agropreneur,” ungkapnya.

Kesempatan untuk mendapatkan modal tidak hanya diberikan untuk para mahasiswa Polbangtan, tapi juga mahasiswa jurusan pertanian dari perguruan tinggi yang menjadi mitra Polbangtan. Untuk mendapatkan modal tersebut para mahasiswa disyaratkan untuk mengikuti mata kuliah kewirausahaan.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Ismaya Parawansa menyebutkan Kementan menargetkan sebanyak 1 juta petani atau sebanyak 40.000 kelompok tani (poktan) milenial akan lahir pada 2019. Menelisik capaian hingga pertengahan tahun ini, target tersebut diyakini dapat tercapai.

“Berdasarkan identifikasi petani milenial yang dilakukan hingga 30 April kemarin, tercatat sudah ada 28.540 poktan. Ini berarti 63,9% dari target yang ditetapkan,” ungkapnya.

Sejak mencanangkan target mencetak 1 juta petani milenial, Kementan melalui BPPSDMP terus menggiatkan program Penumbuhan dan Penguatan Petani Milenial untuk menumbuhkan minat generasi muda bekerja di bidang pertanian.

Pelaksanaan program ini digerakkan di seluruh provinsi di Indonesia dimulai dari Aceh sampai ke Papua.

“Kami membaginya ke dalam zona kawasan jenis komoditas pertanian mulai dari tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan,” sambung Ismaya.

Setiap zona mendapatkan jenis bantuan yang berbeda. Untuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, kelompok tani milenial akan mendapat bantuan benih. Sementara peternakan mendapatkan bantuan ternak, seperti sapi, kambing, dan ayam.

Sebelum mendapatkan bantuan, kelompok tani milenial terlebih dahulu diberikan pembekalan dan bimbingan teknis (bimtek) sesuai dengan bidang pertanian yang ditekuninya.

Bimtek diselenggarakan tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas, keterampilan, sikap, dan pengetahuan petani, tapi juga mengubah pola pikir dan meningkatkan kapasitas seorang petani ke arah yang lebih modern.

Tak hanya pembekalan, Kementan juga turut mendampingi petani saat turun ke lapangan, guna peningkatan produksi dan produktivitas pertanian, peran penyuluh pertanian sangat strategis sebagai pendamping petani. Salah satunya dalam melatih penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada para petani milenial.

Kementan mendefinisikan petani milenial sebagai 19-39 tahun, atau petani yang tidak berada dalam range umur tersebut tetapi berjiwa milenial, tanggap teknologi digital, dan tanggap alsintan. []

(Sumber | DETIK.COM)

Komentar

News Feed