oleh

Pelaku Usaha Tak Boleh Berdiam Diri

Asosiasi Auditor Internal
Asosiasi Auditor Internal (AAI) menggelar seminar nasional bertema Pembangunan Profesionalisme Pengelolaan Perusahaan Berbasis Good Corporate Governance (GCG), Kamis, 24 Maret 2016, di Hermes Palace Hotel, Kota Banda Aceh/Foto | Hidayat

Banda Aceh-Di tengah perkembangan dunia bisnis yang diiringi dengan kemajuan teknologi, para pelaku usaha tidak boleh hanya berdiam diri dan terpaku pada sistem kerja konservatif.

Demikian diungkapkan Dewan Penasehat Asosiasi Auditor Internal (AAI) Haryono Umar, pada seminar nasional bertema Pembangunan Profesionalisme Pengelolaan Perusahaan Berbasis Good Corporate Governance (GCG), Kamis, 24 Maret 2016, di Hermes Palace Hotel, Kota Banda Aceh.

“Jika kita tidak bisa memahami lingkungan (dunia usaha) hari ini, maka kita akan tergilas zaman,” katanya seraya menekankan pentingnya pertemuan ini guna mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik.

Seminar yang dimoderatori oleh Misbahul Munir (Dekan Fakultas Bisnis, President University Jababeka Cikarang) itu menghadirkan Auditor Utama Keuangan Negara BPK-RI Bambang Pamungkas sebagai keynote speaker.

Sementara sebagai pemateri, pihak panitia menghadirkan Imam Bastari (Deputi Bidang ADM Sekretariat Wakil Presiden), Franky Jamin (Independent Commissioner, Kamadjaja Logistic), dan Sunarsip (Chief Economist PT Bank Bukopin Tbk).

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengapresiasi AAI yang telah memilih Banda Aceh sebagai lokasi penyelenggaraan seminar nasional ini.

“Pemko Banda Aceh, menyambut baik pelaksanaan kegiatan seminar AAI kali ini yang mengusung tema ‘Membangun Profesionalisme Pengelolaan Perusahaan berbasis Good Corporate Governance’. Tema ini sangat menarik karena tata kelola masih menjadi pekerjaan rumah pada sebagian besar perusahaan maupun pemerintah di Indonesia,” katanya mengapresiasi.

Menurutnya, tata kelola bukanlah hal yang baru. Dalam ajaran Islam, pengelolaan perusahaan atau Corporate Governance sudah dipraktikkan sejak masa Rasulullah dan para sahabat.
“Saat dunia bisnis melihat Corporate governance sebagai tata kelola perusahaan berdasarkan hubungan antara principal dan agensi yang sempit, Rasulullah dan para sahabat telah jauh-jauh hari mencontohkan tata kelola bisnis yang memelihara tidak hanya kepentingan pemilik, namun juga kepentingan seluruh pemangku kepentingan, dan halal di mata Allah,” tuturnya.

Dalam perspektif Islam, sambungnya, bisnis bukanlah semata-mata upaya pemenuhan kebutuhan hidup, apalagi sekedar usaha mengakumulasi capital, memaksimalkan keuntungan atau memperoleh pertumbuhan yang sehat dan positif.

“Lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa bisnis adalah salah satu cara bermuamalah dengan tujuan memperoleh keridhaan Allah. Oleh karena itu, bisnis dikelola dengan cara-cara yang halal dan baik di mata-Nya,” sebut Illiza.

Ia menambahkan, pihaknya juga menerapkan prinsip-prinsip good governance dan prinsip akuntabilitas yang ruh-nya adalah nilai-nilai keislaman dalam tata kelola pemerintahan di Banda Aceh.

Disamping itu, pihaknya juga terus mendorong perusahaan dan pelaku ekonomi untuk secara sadar menerapkan prinsip dan praktek corporate governance ini dalam pengelolaan usaha mereka.

“Jadi bukan karena terpaksa oleh tekanan regulasi belaka melainkan karena kesadaran bahwa pengelolaan usaha dengan prinsip-prinsip governance ini adalah suatu kebutuhan dan keniscayaan,” pungkas Illiza.

Reporter | Hidayat

Komentar

News Feed