oleh

Sampai Akhir Agustus, 30.000 Hektar Sawah Berpotensi Puso

1659446INDRAMAYURESIZE-1780x390
Haji Sundari tengah berdiri di tengah lahan sawah tanaman padi miliknya di Desa Panyindangan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tanaman padinya rusak parah saat dipanen pada Minggu (16/8/2015) | Kompas.com

Indramayu |Penapsot – Hingga akhir Agustus 2015, sekitar 30.000 hektar lahan tanaman padi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terancam puso. Pekan pertama bulan ini saja tercatat sekitar 20.000 hektar gagal panen. Sementara bulan sebelumnya, yakni Juli sekitar 12.000 hektar.

Wakil Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengungkapkan hal tersebut kepada Kompas.com, Kamis (20/8/2015).

Menurut Sutatang, lahan-lahan persawahan yang terancam puso tersebut berada di Kecamatan Haurgeulis, Terisi, Kandanghaur, Losarang, Balongan, Junti, Krangkeng, Arahan, dan Gabuswetan.

“Secara umum produksi padi anjlok sampai 50 persen. Di sisi lain banyak petani yang terpaksa memanen padi sejak dini. Dalam kondisi normal, produksi gabah kering bisa mencapai 7 ton sampai 8 ton per hektar. Kini hanya 2 ton sampai 3 ton,” papar Sutatang.

Hasil produksi itu pun, imbuh dia, tidak bisa dinikmati petani, karena panen yang berbarengan membuat pasokan banyak sehingga membuat harga gabah kering tertekan menjadi hanya Rp 5.000-Rp 6.000 per kilogram.

Petani, tambah dia, sudah pasrah dengan kondisi tersebut karena kekeringan yang berkepanjangan. Sebagian terpaksa mengalihkan ke tanaman palawija seperti timun suri, kacang, dan tanaman yang sedikit mengonsumsi air.

Alih fungsi lahan sawah tanaman padi menjadi palawija adalah sebagai upaya para petani untuk tetap berproduksi dan mempertahankan sumber penghidupannya.

Rugi banyak

Sudirno (45 tahun) petani yang menggarap sawah tanaman padi milik Hajjah Sundari (55 tahun) di Desa Panyindangan, Kecamatan Sindang, berencana menanam timun suri, dan kacang panjang.

Sawah seluas 1,5 hektar yang dipanennya pada Minggu (16/8/2015) mengalami kerusakan.  “Saya mau nanem  timun sayur, dan kacang panjang saja habis ini,” ujar Sudirno.
Dia mengungkapkan, padi-padi yang dipanennya kopong tidak berbuah. Rusak semua karena kering, dan tidak dialiri air. Kalau pun ada sungai di sekitar Desa Panyindangan, sudah mulai susut karena terus menerus dipompa oleh petani lainnya.

“Saya rugi banyak. Kalau panen sukses saya bisa dapet Rp 25 juta. Sekarang Rp 6 juta aja sudah syukur,” tandas Sudirno.

Sumber |Kompas.com

Komentar

News Feed