oleh

Timphan, Kuliner Khas Aceh Pemantik Rindu Para Pemudik

Banda Aceh-Ke mana pun orang Aceh pergi merantau, ia akan terbayang kampung halamannya, terutama saat momen Lebaran. Ada satu penganan yang membuat rindu akan rumah tak bisa ditolak. Timphan namanya, kue yang punya pantun sendiri, yang berhubungan erat dengan alasan kenapa perantau harus mudik.

Begini bunyi pantunnya: “uroe geut buluen geut, Timphan ma peugoet beumeutemey rasa (hari baik bulan baik, Timphan bikinan ibu harus dapat kurasa).”

‘Hari baik, bulan baik’ merujuk kepada Lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Para ibu di Aceh selalu membuat Timphan sebagai tradisi, untuk anak-anaknya maupun menjamu tamu yang datang. Kerinduan akan kuliner ini selalu menjadi salah satu alasan bagi para perantau untuk mudik di Hari Raya.

“Selain menjenguk orang tua dan berkumpul tentunya, apa lagi kalau bukan Timphan buatan ibu yang selalu membuat rindu kampung,” kata Dewi, warga yang mudik ke Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireuen, Kamis (6/6).

Timphan menjadi makanan paling laris di rumah-rumah orang tua yang anaknya pergi merantau. Selain menu untuk tamu, juga dimakan sendiri oleh anak atau kerabat yang berlebaran di kampung asal mereka.

“Ini hampir seperti makanan wajib saat lebaran,” kata Ibu Marti, warga Bireuen lainnya.

Timphan, kue jenis basah ini biasa dibuat malam Lebaran, anak-anak perempuan, maupun menantu perempuan biasanya ikut nimbrung membantu. Keahlian membuat Timphan kemudian terwariskan dari generasi ke generasi.

Kue Timphan berbentuk pipih lonjong berbungkus daun pisang muda. Ukurannya hampir sama dengan dua atau tiga kali jari orang dewasa. Timphan bertekstur lembek dengan bahan utama tepung dan pisang. Isi dalamnya bisa kelapa campur gula, maupun selai srikaya, tergantung selera.

Srikaya dibuat dari telur, santan, tepung terigu, gula dan nangka cincang halus. Bahan ini perlu dimasak terlebih dahulu sebelum menjadi bagian dalam Timphan.

Cara membuat Timphan gampang-gampang susah. Awalnya, tepung ketan dan pisang dicampur dengan santan kelapa, membentuk adonan kenyal. Sebagian bahan itu kemudian ditaruh di atas daun pisang yang telah diolesi minyak goreng, lalu ditipiskan. Bagian tengahnya diisi kelapa parut atau selai srikaya. Lalu, digulung berbungkus daun pisang.

Proses selanjutnya memasak dengan cara dikukus sampai matang. Timphan siap saji, enak dimakan saat masih hangat. Uniknya, makanan ini bisa tahan sampai empat hari, bahkan seminggu. Begitulah Timphan, kuliner pemantik rindu para pemudik. []

(Sumber | KUMPARAN.COM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed